<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nonton Film Yuuuuukkk</title>
	<atom:link href="http://menontonfilm.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://menontonfilm.wordpress.com</link>
	<description>segala hal tentang film, suka suka saya ... hahaha</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Aug 2008 08:40:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='menontonfilm.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/2da021df23d38ad339ea74558c29aaa3?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nonton Film Yuuuuukkk</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Belajar menjadi manusia dengan Wall E</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/08/03/belajar-menjadi-manusia-dengan-wall-e/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/08/03/belajar-menjadi-manusia-dengan-wall-e/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 08:40:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[
 
 Produser : Jim Morris, John Laseeter, Lindsay Collins

 Produksi : Walt Disney Pictures
 Sutradara : Andrew Stanton

 Penulis : Andrew Stanton
 Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard
 Tahun : 2008



 
 

Bagaimana rasanya menjadi robot terakhir yang tersisa di muka bumi ?
Pertanyaan ini disodorkan melalui film Wall E. Pertanyaan yang sekaligus membuka pintu gerbang menuju sebuah perenungan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=13&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" src="http://www.21cineplex.com/images/film/film19161.jpg" alt="" width="140" height="207" /></p>
<p> </p>
<div class="label"> Produser : Jim Morris, John Laseeter, Lindsay Collins</div>
<div>
<div class="label"> Produksi : Walt Disney Pictures</div>
<div class="label"> Sutradara : Andrew Stanton</p>
<div>
<div class="label"> Penulis : Andrew Stanton</div>
<div class="label"> Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard</div>
<div class="label"> Tahun : 2008</div>
</div>
</div>
</div>
<p> </p>
<p> </p>
<p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://menontonfilm.wordpress.com/2008/08/03/belajar-menjadi-manusia-dengan-wall-e/"><img src="http://img.youtube.com/vi/ZAWIIlXNGwY/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p>Bagaimana rasanya menjadi robot terakhir yang tersisa di muka bumi ?<br />
Pertanyaan ini disodorkan melalui film Wall E. Pertanyaan yang sekaligus membuka pintu gerbang menuju sebuah perenungan yang lebih besar lagi terhadap kehidupan ras manusia pada dunia industri di era kontemporer seperti sekarang ini.</p>
<p><span id="more-13"></span></p>
<p>Tersebutlah Wall E, sebuah robot pemulung. Robot terakhir yang tersisa di muka bumi. Ia menjadi satu satunya robot disini, karena sebuah kesalahan sejarah. Manusia terlalu bebal untuk membiarkan kultur industrialis mengambil alih sisi sisi manusiawi dalam kehidupan manusia. Dan ketika kesalahan sejarah itu telah menjadi sampah yang telah menggunung, maka manusia hanya mampu melarikan diri dan bernostalgia terhadap keindahan hidup mereka dahulu. Wall E sebagai sebuah robot yang tersisa, ia pun dipaksa untuk hidup berdampingan dengan kesalahan sejarah umat manusia tersebut. Hingga pada suatu waktu, datanglah E-Pa, sebuah robot lain. Robot yang membawanya untuk mengajarkan manusia akan nilai nilai humanisme. Dan dari sinilah petualangan Wall E bermula.</p>
<p>Film keluaran Pixar ini tidak salah jika saya sebut sebagai salah satu film animasi terbaik di tahun ini. Bahkan review dari beberapa situs terpercaya juga memberikan bintang empat kepada film ini. Disini, Pixar memberikan pilihan cerita yang tidak hanya menghibur, namun juga memberikan kedalaman perenungan terhadap kehidupan umat manusia. Dan cerita yang dipilih Pixar, merupakan sebuah cerita yang tepat disaat umat manusia terutama di belahan bumi Amerika sedang membutuhkan alternatif dalam kehidupannya.</p>
<p>Scott McLoud, seorang komikus dan penulis, pernah memberikan pendapat bahwa manusia adalah makhluk yang egois karena selalu memberikan sisi manusia kedalam benda benda. Merujuk kepada pernyataan Scott McLoud tadi, maka film Wall E akan menjadi film animasi yang sangat ironis. Karena pada film Wall E, kita dipaksa untuk belajar kembali menjadi manusia dengan sisi sisi humanisnya melalui sebuah robot yang berperilaku lebih humanis daripada manusia manusia terakhir di muka bumi. Salah satu contoh adalah ketika Wall E menemukan tumbuhan diantara reruntuhan puing puing sampah, ia sebagai robot bukannya membuang ataupun medaur ulangnya, melainkan menyimpannya agar tetap tumbuh dan berkembang. Bandingkan dengan perilaku manusia yang dengan alasan pembangunan kota, malahan membabat habis pohon pohon dan tanaman di taman taman kota.</p>
<p>Animasi dalam Wall E inipun sangat berbeda dengan tipikal animasi animasi lainnya. Sebelum ini, kita terbiasa dengan mekanisme visual dalam animasi yang sophisticated ataupun futuristik dengan bertebaran visualisasi yang canggih dan mutakhir. Namun disini, kita mendapati visualisasi yang dikontraskan antar satu dengan lainnya. Visual kehidupan futuristis dalam pesawat tempat E-Pa tinggal versus visualisasi bumi yang penuh sampah industri di tempat Wall E tinggal. Visualisasi tumbuhan hidup yang segar dan tumbuh bersemi versus visualisasi gunungan sampah industri sebagai latar belakangnya.</p>
<p>Membaca film Wall E memang menuntut kecerdasan visual. Hal ini mutlak, karena film ini minim dialog verbal. Wall E memang lebih banyak menggunakan praktek komunikasi visual, sesuatu yang jarang dilakukan Pixar dalam film film sebelumnya. Dan hal ini cukup membuat saya salut, karena merupakan terobosan langka dan berani yang dilakukan studio sebesar Pixar.</p>
<p>Wall E mendapat bintang empat dari saya. Dan saya sangat mereferensikan film ini kepada segenap anda, yang masih ingin menjadi manusia dalam kotornya kehidupan dunia industri era sekarang ini.</p>
<p>jakarta, akhir juli 2008</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=13&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/08/03/belajar-menjadi-manusia-dengan-wall-e/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.21cineplex.com/images/film/film19161.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/ZAWIIlXNGwY/2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Melihat mentalitas audience &amp; hubungan antar personal dalam Sex &amp; The City</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/08/02/melihat-mentalitas-audience-hubungan-antar-personal-dalam-sex-the-city/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/08/02/melihat-mentalitas-audience-hubungan-antar-personal-dalam-sex-the-city/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 14:08:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[
 Produser : Sarrah Jessica Parker, Michael Patrick King
Produksi : New Line Cinema
Sutradara : Michael Patrick King
Penulis : Michael Patrick King
Pemain : Sarrah jessica Parker, Kim Cattrall, Kristin Davis, Cynthia Nixon
Tahun : 2008
Mungkin terdapat milyaran orang [terutama perempuan] di planet bumi ini yang menggemari Sex &#38; The City semenjak masih menjadi serial televisi hingga menjadi film [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=11&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" src="http://www.21cineplex.com/images/film/film18831.jpg" alt="" width="140" height="207" /></p>
<p> Produser : Sarrah Jessica Parker, Michael Patrick King</p>
<p>Produksi : New Line Cinema</p>
<p>Sutradara : Michael Patrick King</p>
<p>Penulis : Michael Patrick King</p>
<p>Pemain : Sarrah jessica Parker, Kim Cattrall, Kristin Davis, Cynthia Nixon</p>
<p>Tahun : 2008</p>
<p>Mungkin terdapat milyaran orang <em>[terutama perempuan]</em> di planet bumi ini yang menggemari Sex &amp; The City semenjak masih menjadi serial televisi hingga menjadi film layar lebar. Mungkin terdapat juga milyaran orang yang merasa kecewa dengan Sex &amp; The City format layar lebar yang jauh dari harapan mereka. Hal ini bisa dimaklumi, karena ekspektasi penonton yang berharap bahwa Sex &amp; The City format layar lebar akan mampu menampilkan sajian cerita tentang hubungan antar personal yang membara seperti dalam Sex &amp; City format serial televisi. Dan seperti kata seorang teman, maka film seperti sebuah lagu. Ia dipilih untuk disukai ataupun tidak, selalu karena berhubungan dengan kehidupan personal si penonton. Disini, film sama seperti juga sebuah lagu, akan terbebani dengan ekspektasi ekspektasi tertentu diluar praktek estetik si pembuatnya. Menonton film pun menjadi sesuatu hal yang tidak objektif lagi.</p>
<p><span id="more-11"></span><br />
Dalam Sex &amp; The City format serial televisi, terkisahkan Carrie Bradshaw, Samantha, Charlotte dan Miranda sebagai sahabat, dalam rentang usia akhir 20an hingga 35an menjalani hidup di kota metropolitan New York. Pada rentang usia tersebut, rata rata kebanyakan orang akan menjalani hidup dengan tujuan yang kurang lebih adalah citra diri dan juga hubungan personal yang romantis dan membara. Demikian juga yang terjadi dalam Sex &amp; The City format serial televisi. Semua tersajikan dengan menarik seperti kisah dongeng sebelum tidur, hanya saja melalui kehidupan 4 perempuan di kota New York.</p>
<p>Sementara itu dalam Sex &amp; The City format film layar lebar, maka Carrie dan para sahabatnya berada dalam rentang usia 40an sekian. Rentang waktu dimana kebanyakan manusia akan menjalani hidup dengan tujuan yang lebih sederhana sekaligus kompleks yaitu kebahagiaan. Kebahagiaan bagi setiap orang akan selalu berbeda, seperti juga yang terjadi pada Carrie dan sahabatnya. Bagi Carrie, kebahagiaan akan didapat dengan menikah bersama Mr Big, lelaki pilihannya. Sementara bagi Samantha, kebahagiaan terjadi dengan mengatasi permasalahan dirinya yaitu ketergantungannya akan seks. Bagi Charlotte, kebahagiaan berarti adalah keluarga yang sempurna, serta bagi Miranda, kebahagiaan terjadi apabila ia berhasil mengatasi hubungan personalnya dengan suaminya.</p>
<p>Permasalahan kebahagiaan sebenarnya adalah hal klasik dalam kehidupan, namun sangat kompleks dalam praktiknya. Sebuah pernikahan mungkin akan menjadi praktek yang sederhana bagi Carrie, namun bisa menjadi sebuah persoalan yang luar biasa kompleks bagi Mr Big. Ia berpikir dari A sampai Z hingga kembali ke A dan memutuskan membatalkan pernikahan disaat saat terakhir. Dan apabila pernikahan adalah sebuah kebahagiaan, maka hal itu akan melibatkan manajemen kebebasan dan manajemen mental dari dua orang, yang tentunya sangatlah rumit. Pernikahan bukanlah kisah dongeng sebelum tidur yang selalu menghiasi mentalitas para perempuan muda. Dari hal ini bisa terlihat bahwa kebahagiaan seseorang, belum tentu menjadi sebuah hal yang sederhana bagi orang lain, karena melibatkan ketakutan ketakutan tertentu dalam mentalitas dirinya.</p>
<p>Permasalahan unik lainnya mengenai kebahagiaan terjadi dalam kehidupan Samantha. Samantha pada saat berumur 30an sekian <em>[dalam format serial televisi]</em> adalah seorang Samantha yang egois, control freak, dan melihat konsep hubungan melalui kualitas hubungan seks bersama pasangannya. Namun terkisahkan disini, Samantha adalah seorang perempuan berumur menjelang 50an, dan menjalani transisi kehidupan antara perempuan bermental usia 30an sekian kepada perempuan bermental usia menjelang 50an. Kebutuhan mendasar dari dirinya akan kebahagiaan adalah sebuah perasaan dimiliki, perasaan sebagai objek kasih sayang. Dan hal inilah yang tidak ia dapati dengan tata cara yang egois dan control freak terhadap pasangannya, terutama apabila ia melihat pasangannya <em>[dan juga dirinya]</em> melalui hubungan seks semata. Selalu ada ruang ruang kosong dalam sisi emosinya. Hal inilah yang coba diatasi Samantha, dengan tata caranya sendiri, hingga kepada berpantang untuk melakukan hubungan seks.</p>
<p>Permasalahan kebahagiaan adalah permasalahan yang unik. Selalu menarik untuk dibicarakan dan ditonton karena ia bukan sekedar dongeng sebelum tidur ataupun kisah kisah di iklan televisi. Kebahagiaan selalu berarti mengatasi segala permasalahan mendasar dalam kehidupan sekaligus menikmati kehidupan itu sendiri, kehidupan yang menurut kata seorang teman adalah sadomasokis. Dan terkadang manusia suka lupa, karena ia hanya menikmati sisi indahnya semata tetapi tidak mampu menikmati sisi masokisnya. Sisi yang justru memunculkan banyak hal menarik – sekalipun kecil – dalam samudra kehidupan yang mahaluas.</p>
<p>Dan sisi sisi kecil yang masokis dan menarik inilah yang sedang diperagakan dalam Sex &amp; The City format layar lebar. Trauma trauma masa lalu seorang Mr Big yang tidak tampak secara verbal tetapi mampu mengacaukan pernikahannya dengan Carrie, hingga kepada negatifisme seorang Miranda dalam memandang hidup yang tampak secara jelas baik melalui perkataan hingga kepada sikap untuk tidak melakukan waxing pada bulu kemaluannya. Semua ini adalah sisi sisi kecil dari sebuah kehidupan yang masokis.</p>
<p>Pada akhirnya memang adalah happy ending, sebuah praktek estetik khas Hollywood. Carrie dan Mr Big akhirnya menikah secara sederhana, Miranda yang kembali ke suaminya, Samantha yang berbahagia dengan hidupnya yang sendiri <em>[tanpa pasangan seksual],</em> serta Charlotte yang menikmati menjadi ibu bagi keluarganya yang sempurna. Dan disini, Hollywood melalui praktek visual dalam film Sex &amp; The City, seakan hendak mengadopsi filosofi budaya timur, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang sederhana dan berasal dari pemenuhan kebutuhan mendasar dalam diri.</p>
<p>Menonton Sex &amp; The City format layar lebar bagi saya ibarat menonton sebuah fragmen kehidupan yang kecil, singkat tetapi menarik karena penuh dengan lokus konflik yang kecil kecil, sehingga memaksa saya untuk merenungkan mengenai permasalahan kebahagiaan yang konon didapat dengan cara mengatasi dan menikmati sisi sisi masokisnya tersebut. Namun tentu saja tetap dengan sebuah catatan, bahwa untuk menonton film Sex &amp; The City, sebelumnya haruslah mengosongkan terlebih dahulu referensi mengenai Sex &amp; The City ala serial televisi agar bisa mendapati sisi sisi menariknya secara objektif dan jauh dari ekspektasi ekspektasi tertentu. Film ini mendapatkan bintang tiga dari saya, dan sangat direferensikan bagi mereka yang ingin menikmati hidup dan berusaha meraih kebahagiaan secara lebih sederhana.</p>
<p>jakarta, akhir juli2008</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=11&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/08/02/melihat-mentalitas-audience-hubungan-antar-personal-dalam-sex-the-city/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.21cineplex.com/images/film/film18831.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ayat Ayat Cinta; ambiguitas antara dakwah dan dialog antar umat beragama</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/06/09/ayat-ayat-cinta-ambiguitas-antara-dakwah-dan-dialog-antar-umat-beragama/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/06/09/ayat-ayat-cinta-ambiguitas-antara-dakwah-dan-dialog-antar-umat-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 01:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[ 
Director : Hanung Bramantyo
Pemain : Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Hj. Mieke Wijaya
Penulis naskah : Habiburrachman El Shirazi, Salman Aristo, Ginatri Noer
Produksi : MD Pictures
Tahun : 2008
Sebenarnya saya tidak terlalu suka untuk meresensi film film populer, terutama film box office yang dapat membuat seseorang sekaliber Presiden RI Susilo Bambang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=10&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <img style="vertical-align:baseline;" src="http://www.21cineplex.com/images/film/film18191.jpg" alt="poster kecil" width="140" height="206" /></p>
<p><strong>Director :</strong> Hanung Bramantyo</p>
<p><strong>Pemain :</strong> Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Hj. Mieke Wijaya</p>
<p><strong>Penulis naskah :</strong> Habiburrachman El Shirazi, Salman Aristo, Ginatri Noer</p>
<p><strong>Produksi :</strong> MD Pictures</p>
<p><strong>Tahun :</strong> 2008</p>
<p>Sebenarnya saya tidak terlalu suka untuk meresensi film film populer, terutama film box office yang dapat membuat seseorang sekaliber Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadi termehek mehek saat menontonnya. Namun desakan secara terus menerus dari beberapa teman saya, yang berbeda agama dengan saya yang seorang Katolik akhirnya mampu meluluhkan saya. Bahkan lebih jauh lagi, saya juga tidak hanya meresensi filmnya, namun sekaligus juga novel Ayat Ayat Cinta.</p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p>Ayat Ayat Cinta, sebagai sebuah film, diadaptasi dari novel karangan Habiburahman El Shirazi yang bertajuk sama. Dari sini sudah jelas, bahwa tanggung jawab moral utama selain berada pada tangan seorang sutradara juga berada pada penulis naskah asli atau dalam hal ini penulis novel Ayat Ayat Cinta tersebut. Karena sesuai dengan alur kerja dalam proses sinematografi, maka film sekalipun adalah sebuah kerja tim, tetapi aktor utama dibelakang layar adalah sutradara dan penulis naskah itu sendiri.</p>
<p>Ayat Ayat Cinta dibuat dengan semangat dakwah, setidaknya itu yang saya tangkap baik novel maupun dari film itu sendiri. Oleh karena dibuat dengan semangat dakwah, maka kepentingan ataupun tujuan utamanya adalah sebuah siar agama atau kampanye kebaikan sebuah ajaran agama. Dalam hal ini Ayat Ayat Cinta hendak menyiarkan semangat kedamaian dalam ajaran agama Islam. Semangat ini sesungguhnya baik, mengingat stigma negatif yang sering dilekatkan kepada kaum muslim sebagai seorang teroris.</p>
<p>Namun semangat dakwah ini cenderung berlebihan. Setidaknya itu yang saya tangkap dalam novelnya. Terdapat sebuah adegan dalam novel, dimana Maria yang seorang penganut Kristen Koptik bermimpi, dan dalam mimpinya ia bertemu Bunda Maria. Bunda Maria kemudian menyerukan kepada Maria, bahwa untuk mencapai kebahagiaan dan surga yang diinginkan, Maria haruslah mengucap syahadat dan menjadi muslim.</p>
<p>Bunda Maria adalah sosok yang dikuduskan oleh kaum Nasrani di seluruh dunia. Sementara itu kaum Nasrani apapun bentuk alirannya, menganut ajaran Yesus Kristus mengenai kebaikan, kebahagiaan, kemanusiaan bahkan konsep surga dan neraka itu sendiri. Apa yang hendak dikemukakan oleh Habiburahman dalam novelnya ini setidaknya merupakan sebuah subversi yang cenderung menyalahpahami keberadaan ajaran agama Nasrani. Namun oleh Habiburahman, novel ini cenderung dijadikan siar dakwah kebaikan ajaran Islam.</p>
<p>Sebelum lebih jauh membahas novel dan film Ayat Ayat Cinta, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu mengenai tradisi hidup berdampingan dalam agama agama Samawi. Agama agama Samawi adalah agama agama wahyu yang diturunkan pertama kalinya di daratan Afrika Utara dan Timur Tengah. Pada mulanya Tuhan menurunkan sepuluh perintahNya dalam loh batu kepada nabi Musa yang seorang bani Yahudi di gunung Sinai. Sepuluh perintah Allah ini kemudian menjadi ajaran Yahudi Ibrani di sinagoga sinagoga Israel dengan kitabnya bernama Taurat Musa. Hal ini berkembang hingga masa Yesus Kristus. Perkembangan jaman yang semakin kompleks memaksa Yesus Kristus yang juga seorang anak gembala Yahudi untuk merevolusi berbagai ajaran Taurat Musa. Injil dengan berbagai variannya kemudian menjadi kitab suci bagi agama Nasrani. Dalam agama Nasrani sendiri terdapat berbagai percabangan. Seperti Katolik Roma <em>[Romawi]</em> yang tersebar di seluruh dunia dengan berpusat di Vatikan, Kristen Protestan yang awal mulanya dikembangkan oleh kaum Anglo Saxon di Inggris, serta Nasrani Ortodoks <em>[Katolik Ortodoks]</em> yang juga disebut Kristen Koptik yang disebarkan oleh para murid Yesus sesudah era Kristus di Timur Tengah, Afrika Utara, sebagian Eropa Timur, serta bekas Uni Sovyet <em>[Rusia dan negara negara kecil disekitarnya].</em> Setelah perkembangan ajaran Nasrani ini, kemudian barulah berkembang ajaran Islam oleh nabi Muhammad yang memindahkan pusat agama dari Yerusalem ke Mekkah. Islam sendiri dalam ajarannya melalui kitab suci Al Quran juga banyak mengadaptasikan ajaran ajaran syariat Yahudi yang telah berkembang mulai jaman nabi Musa hingga Yesus Kristus.</p>
<p>Terdapat banyak bukti otentik mengenai hal tersebut. Seperti shalat lima waktu dalam Islam yang diadaptasi dari shalat tujuh waktu Kristen Koptik, kemudian tradisi berpuasa orang Islam selama 30 hari yang serupa dengan tradisi berpuasa orang Katolik selama 40 hari menjelang Paskah, serta ucapan salam assalamualaikum dalam Islam yang berarti syallom bagi umat Nasrani. Serta masih banyak hal hal kecil lain dalam ajaran umat Islam yang secara historis diwariskan oleh tradisi syariat Yahudi ini. Dan hingga detik ini, di Timur Tengah yang notabene merupakan daerah konflik, umat beragama hidup berdampingan dengan rukun tanpa memandang bulu apakah itu seorang Islam ataukah seorang Nasrani ataukah seorang Yahudi Ibrani. Walaupun kehidupan berdampingan di Timur Tengah ini seringkali dirusak oleh fundamentalisme dan totalitarian yang diperagakan anak cucu kaum Saud dan kaum Wahhab.</p>
<p>Korelasi antara kehidupan multireligi dengan novel Ayat Ayat Cinta disini adalah setting geografis dan kultural. Namun novel Ayat Ayat Cinta, yang memang cenderung ditulis dengan semangat dakwah, kemudian cenderung kurang memperhatikan riset mengenai tradisi kehidupan berdampingan antar agama di Timur Tengah. Hal ini kemudian malahan menyebabkan novel Ayat Ayat Cinta menjadi over dalam semangatnya. Lalu jika novel Ayat Ayat Cinta dalam dakwahnya kemudian mensubversi ajaran Kristen Koptik, mengapa banyak umat Islam harus marah kepada Ahmadiyah ?</p>
<p>Bagi saya novel ini jatuh karena ia cenderung menjadi pretensius. Lebih jauh lagi saya sendiri lebih menyukai jika novel Ayat Ayat Cinta dibuat dengan riset akan tradisi kerukunan antar umat beragama yang bukan bersetting Timur Tengah melainkan di Indonesia Timur tepatnya di Maluku dan Papua yang bernama pella-gandong. Hal ini juga untuk mengajarkan bangsa Indonesia agar menghargai budayanya sendiri dan tidak kearab-araban atau bahkan lebih arab ketimbang orang Arab itu sendiri.</p>
<p>Adegan yang saya sebutkan dalam novel ini, untungnya tidak diadaptasi oleh Hanung Bramantyo kedalam filmnya. Hanung Bramantyo sekalipun tidak melakukan riset yang ketat mengenai tradisi kehidupan multireligi di daratan Timur Tengah dan Afrika Utara, agaknya juga tidak hendak mengadaptasi novel Ayat Ayat Cinta secara ketat menjadi sebuah film yang utuh. Saya sendiri tidak mengetahui alasan pasti dari Hanung Bramantyo mengenai hal ini.</p>
<p>Namun mekanisme yang diperagakan Hanung Bramantyo ini membuat film Ayat Ayat Cinta menjadi lebih ambigu, setidaknya ambiguitas yang harmonis. Film Ayat Ayat Cinta memang tetap berdakwah, tetapi lebih dengan semangat kerendahan hati sehingga cukup memperhatikan dialog kerukunan antar umat beragama. Dan ambiguitas seperti inilah yang menjadi kekuatan dalam film Ayat Ayat Cinta. Film Ayat Ayat Cinta menjadi film yang cukup baik bukan karena box office dan tiketnya habis terjual di seantero nusantara, melainkan justru karena film ini mencapai tujuannya untuk menyiarkan kedamaian dalam ajaran agama Islam tanpa harus merusak dialog kerukunan antar umat beragama.</p>
<p><strong>review by andreas eko<br />
jakarta, 090608</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=10&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/06/09/ayat-ayat-cinta-ambiguitas-antara-dakwah-dan-dialog-antar-umat-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.21cineplex.com/images/film/film18191.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">poster kecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Where The Day Takes You; Representasi Sebuah Era Ketika Hollywood adalah Hollyweird</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/06/08/where-the-day-takes-you-representasi-sebuah-era-ketika-hollywood-adalah-hollyweird/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/06/08/where-the-day-takes-you-representasi-sebuah-era-ketika-hollywood-adalah-hollyweird/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 05:47:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[

Director : Marc Rocco    
Cast:  : Dermot Mulroney (King), Lara-Flynn Boyle (Heather), Balthazar Getty (Little J), Sean Astin (Greg), James LeGros (Crasher), Ricki Lake (Brenda), Kyle MacLachlan (Ted), Robert Knepper (Rock Singer), Peter Dobson (Tommy Ray), Stephen Tobolowsky (Charles), Will Smith (Manny), Adam Baldwin (Officer Black), Laura San Giacomo (Interviewer), Christian Slater (Rocky), Nancy McKeon (Vikki), Alyssa Milano [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=8&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://menontonfilm.wordpress.com/2008/06/08/where-the-day-takes-you-representasi-sebuah-era-ketika-hollywood-adalah-hollyweird/"><img src="http://img.youtube.com/vi/cLWWr_L0jLU/2.jpg" alt="" /></a></span></p>
<p><img style="vertical-align:baseline;" src="http://graphics8.nytimes.com/images/section/movies/amg/dvd/cov150/drt300/t354/t35414h920y.jpg" alt="poster kecil" width="150" height="210" /></p>
<p><strong>Director :</strong> Marc Rocco    <br />
<strong>Cast:  :</strong> Dermot Mulroney (King), Lara-Flynn Boyle (Heather), Balthazar Getty (Little J), Sean Astin (Greg), James LeGros (Crasher), Ricki Lake (Brenda), Kyle MacLachlan (Ted), Robert Knepper (Rock Singer), Peter Dobson (Tommy Ray), Stephen Tobolowsky (Charles), Will Smith (Manny), Adam Baldwin (Officer Black), Laura San Giacomo (Interviewer), Christian Slater (Rocky), Nancy McKeon (Vikki), Alyssa Milano (Kimmy), David Arquette (Rob), Charlie Sheen (Drug Dealer)<br />
<strong>Producer :</strong> Paul Hertzbert, Lisa M Jansen, Marc Rocco<br />
<strong>Production :</strong> Grey Matter Entertaintment<br />
<strong>Distribution :</strong> New Line Cinema<br />
<strong>Year  :</strong> 1992</p>
<p>Apa yang menjadi penanda populer dalam sejarah kebudayaan ala Amerika pada dekade 90an ? Jawabannya bisa saja beragam, tetapi lebih baik saya generalisasikan dalam beberapa hal saja secara singkat, yaitu : grunge, bohemian, narkotika dan ketidak teraturan. Beberapa hal tersebut diatas yang menjadi pondasi dalam sebuah film bernama Where The Day Takes You.</p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p>Film ini memang bukan film box office pada dekade 90an, tetapi ia adalah sebuah film yang benar benar bagus. Ia memang berada pada kategori drama, namun setting dan ceritanya menyebabkannya berada dalam subordinat pinggiran drama alias urban drama. Lebih dari itu film ini, sekalipun bukan film yang cukup populer namun merupakan <em>something in common</em> dalam kategori <em>road movie</em> yang banyak tumbuh dalam lingkaran kultur indie film dan urban drama.</p>
<p>Berkisah tentang beberapa orang remaja homeless yang mencoba survive dalam kehidupan jalanan di pinggiran Boulevard Hollywood, Los Angeles Amerika. King, seorang adalah pimpinan dari para remaja tersebut. Ia baru saja bebas dari penjara akibat kasus penyerangan. Dan ketika kembali ke rumahnya yaitu di kolong fly over jalan tol Los Angeles, ia mendapati perubahan dalam diri teman temannya yang selama ini menjadi keluarganya. Greg yang menjadi pecandu akut narkoba, Little J yang semakin kriminal dan menyukai senjata api, Crasher si tokoh tua lain yang semakin kehilangan wibawa, serta kedatangan Heather yang membuat kehidupan King menjadi lebih berarti. Melodramatic terjadi ketika perseteruan antara King dan seorang germo bernama Tommy Ray.</p>
<p>Film ini dibuat dengan pendekatan yang sedikit banyak dokumenter, serta berdasarkan riset yang ketat mengenai kehidupan anak jalanan di Amerika Serikat. Hal inilah yang membuat Marc Rocco berani mengeluarkan pernyataan, bahwa setiap 21 jam di Amerika Serikat, satu orang anak akan minggat dari rumahnya dan berada di jalanan.</p>
<p>Kekuatan lain dari film ini adalah karakter karakternya yang ambigu, ironis dan lebih realistis. King sebagai pimpinan, bukanlah seorang jagoan macho yang petentang petenteng. Ia hanyalah gembel yang suka mengemis, dimana hasilnya ia bagikan kepada teman teman pengemisnya yang lain, serta suka membuat istilah plesetan jalanan seperti Hollywood yang berubah menjadi Hollyweird. Greg, anak jalanan yang manja dan tidak sanggup menghadapi kekuatan halusinasi narkotika yang dipakainya. Little J, remaja puber yang harus melayani nafsu seorang homoseksual demi mendapatkan uang untuk makanan dan senjata api. Crasher, remaja tua berwajah mirip Axl Rose tetapi tidak memiliki wibawa seperti seorang metalhead. Brenda, perempuan remaja obsesif yang ingin menjadi aktris tetapi menderita obesitas. Serta Heather, perempuan jalanan yang sebenarnya manja dan pussycat. Kesemua karakter ini jauh dari glamor dan modernitas sinema ala Hollywood. Mereka terlalu cengeng untuk film action tetapi juga terlalu preman untuk film drama. Ambiguitas dan ironi seperti inilah yang menjadi ciri dan kekuatan film.</p>
<p>Kekuatan lain yaitu, film bertaburan dengan bintang bintang muda yang berperan sebagai cameo. Seperti Will Smith yang menjadi pengemis gembel cacat, ataupun Charlie Sheen yang menjadi pengedar narkoba, serta Allysa Milano dan Christian Slater. Mereka memang hanya menjadi cameo, tetapi mereka melakukan dengan baik, dan hal ini membuat saya salut dan angkat topi kepada mereka.</p>
<p>Sinematografi film juga sangat baik. Dengan tata kamera dan warna warna sedemikian rupa, ia mewakili visualisasi khas ala akhir dekade 80an dan awal dekade 90an. Raw tetapi harmonis, kasar tetapi tidak brutal. Boleh dikatakan jika film ini merupakan representasi sebuah era yaitu dekade 90an.</p>
<p>Dan dengan ending yang tragis sekaligus mengharukan, film ini semakin meneguhkan semangat sebuah era, ketika narkotika, grunge, bohemian dan ketidak-teraturan kehidupan jalanan berpadu menjadi satu. Film ini memang tentang kehidupan jalanan, namun lebih jauh lagi, film ini merupakan sumbangan pemikiran penting mengenai arti penting rumah dan keluarga. Tidak berlebihan kiranya jika film mendapat bintang empat dari saya. Untuk anda yang berasal dari akhir dekade 80an dan besar di dekade 90an, film ini sangat direferensikan sebagai jejak nostalgia kehidupan anda.</p>
<p><strong>jakarta, 080608</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=8&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/06/08/where-the-day-takes-you-representasi-sebuah-era-ketika-hollywood-adalah-hollyweird/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/cLWWr_L0jLU/2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://graphics8.nytimes.com/images/section/movies/amg/dvd/cov150/drt300/t354/t35414h920y.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">poster kecil</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Love; nafas segar dalam film Amerika</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/love-nafas-segar-dalam-film-amerika/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/love-nafas-segar-dalam-film-amerika/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 03:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[
judul asli : LOVE
director : Vladan Nikolic
tahun pembuatan : 2005
Konon industri film Amerika di era kekinian sempat kehabisan stock untuk bercerita melalui film. Konon segala hal telah habis dieksplorasi, dari satir kebodohan penduduk Amerika hingga nostalgia heroisme ala Marvel ataupun DC. Lalu apakah yang menarik dalam film Love ini, atau tepatnya apa yang baru dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=7&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="vertical-align:baseline;" src="http://images.blockbuster.com/is/amg/dvd/cov150/dru300/u376/u37606dzzxu.jpg?wid=130&amp;&amp;hei=182&amp;cvt=jpeg" alt="poster" width="130" height="182" /></p>
<p><strong>judul asli : LOVE</strong></p>
<p><strong>director : Vladan Nikolic</strong></p>
<p><strong>tahun pembuatan : 2005</strong></p>
<p>Konon industri film Amerika di era kekinian sempat kehabisan stock untuk bercerita melalui film. Konon segala hal telah habis dieksplorasi, dari satir kebodohan penduduk Amerika hingga nostalgia heroisme ala Marvel ataupun DC. Lalu apakah yang menarik dalam film Love ini, atau tepatnya apa yang baru dalam film ini ?</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Film ini bertutur tentang hubungan yang rapuh antar manusia. Ketika Hollywood memilih menuntaskan tragedi kehidupan manusia dalam drama yang happy ending, film ini sendiri lebih memilih menggenapkan tragedi itu sendiri.</p>
<p>Berkisah mengenai seorang pembunuh bayaran asal Bosnia bernama Vanya yang dalam tugas terakhirnya dijebak dalam konspirasi bersama agen FBI korup. Plot utama ini berkembang dengan beberapa subplot ketika Anna mantan kekasih Vanya di Bosnia, seorang dokter muda yang bertugas di kota New York, terjebak dalam konspirasi tersebut. Bahkan kemudian kekasih dari sang dokter itu, seorang polisi lokal berdarah hispanik juga terjebak dalam konspirasi itu. Dan kemudian seperti sudah saya katakan di awal, ending yang terjadi adalah penggenapan tragedi. Agen FBI korup tersebut memang kemudian mati, tetapi Vanya memilih bunuh diri setelah tugas terakhirnya itu. Anna yang sempat menemukan kegairahan kembali akan hubungan masa lalunya bersama Vanya juga harus mengubur hal tersebut. Bahkan ironisnya ia selain kehilangan Vanya, juga kemudian berpisah dari kekasihnya yang polisi lokal itu. Selain itu sang polisi lokal, selain kehilangan Anna, juga kemudian gantung profesi dan beralih menjadi seorang penulis cerita fiksi.</p>
<p>Genre film ini memang drama. Tetapi ketidakbiasaan dalam penuturan cerita inilah yang membuatnya berbeda dengan drama drama lain dalam film ala Amerika. Bahkan lebih jauh lagi, hal ini juga diperkuat dengan setting film itu sendiri. Film dibuat dengan mengambil setting bagian bagian tak terjamah dari kota New York. Apabila kita melihat setting kota New York, maka dalam ingatan visual kita akan tergambar kemeriahan distrik Manhattan, lampu lampu dan billboard di pusat kota, lalu lalang taksi berwarna kuning, keangkeran distrik Bronx ataupun Brooklyn, dsb. Namun kesemua itu tidak ada disini. Yang ada hanyalah apartemen apartemen kosong dan rusak, jalanan jalanan sepi, cafe dan bar dari kaum imigran Eropa Timur, dsb.</p>
<p>Film ini adalah tipikalitas film yang benar benar bersemangat independen yang memfilmkan suatu hal lain dalam realitas. Bahkan hal ini semakin diperkuat dengan musik scoring dalam film ini. Musik scoring film ini menggunakan musik etnik Eropa Timur, dengan beat dan tempo yang disesuaikan dengan mood dan tensi ketegangan adegan film. Hal ini merupakan sebuah bukti dari semangat sang para kreatornya untuk benar benar total dalam membuat film ini. Walaupun terkadang memang masih ada adegan adegan yang saya rasa tidak perlu ada, namun tetap saja film ini membuat saya salut. Karena selain totalitas dan semangat yang diberikan, film juga merupakan sebuah nafas baru dalam tontonan film ala Amerika. Tidak berlebihan rasanya jika Tribeca Film Festival memilihnya sebagai official film selection.</p>
<p><strong>review by andreas eko<br />
jakarta, 180508</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=7&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/love-nafas-segar-dalam-film-amerika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.blockbuster.com/is/amg/dvd/cov150/dru300/u376/u37606dzzxu.jpg?wid=130&#38;&#38;hei=182&#38;cvt=jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">poster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Kite Runner; cara pandang lain dunia Barat terhadap Afghanistan</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/the-kite-runner-cara-pandang-lain-dunia-barat-terhadap-afghanistan/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/the-kite-runner-cara-pandang-lain-dunia-barat-terhadap-afghanistan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 03:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[
judul asli : The Kite Runner
director : Marc Foster
tahun pembuatan : 2007
Berbicara mengenai Afghanistan, maka otak kita akan terfokus kepada serdadu Taliban, gerilyawan Al Qaeda dan Ossama Bin Laden, serta kehidupan keras kaum muslim di gurun pasir Timur Tengah. Dengan disutradarai oleh Marc Foster [director film Finding Neverland], film ini memang memvisualkan hal tersebut. Tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=6&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="vertical-align:baseline;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b8/Kite_Runner_film.jpg" alt="poster" width="269" height="400" /></p>
<p><strong>judul asli : The Kite Runner</strong></p>
<p><strong>director : Marc Foster</strong></p>
<p><strong>tahun pembuatan : 2007</strong></p>
<p>Berbicara mengenai Afghanistan, maka otak kita akan terfokus kepada serdadu Taliban, gerilyawan Al Qaeda dan Ossama Bin Laden, serta kehidupan keras kaum muslim di gurun pasir Timur Tengah. Dengan disutradarai oleh Marc Foster <em>[director film Finding Neverland]</em>, film ini memang memvisualkan hal tersebut. Tetapi lebih jauh lagi, plot film ini bercerita mengenai kembalinya kebaikan dalam hidup beberapa orang Afghanistan.</p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p>Terkisahkan bahwa Hassan dan Amir adalah dua orang karib sejak kecil, yang terpisah ketika invasi pasukan Uni Sovyet di kota Kabul. Amir adalah anak seorang saudagar kaya di kota Kabul. Dan Hassan yang berdarah Hazzara adalah anak dari Ali pembantu dikeluarga Amir. Kaum Hazzara adalah suku dengan kelas sosial nomer dua di Afghanistan. Ketika perang berlangsung, Amir dibesarkan di Amerika dan kemudian menjadi seorang penulis cerita fiksi. Hassan sendiri kurang beruntung, setelah berhasil melewati masa susah dalam invasi Uni Sovyet, Hassan beserta istrinya terbunuh oleh pasukan Taliban di kota Kabul. Disini Amir pun harus kembali ke kota Kabul demi menyelamatkan anak lelaki Hassan bernama Sohrab dari cengkeraman pasukan Taliban yang berasal dari suku asli Afghanistan dengan kelas sosial nomor satu. Disini Amir selain harus menghadapi pasukan Taliban, juga harus menghadapi hantu hantu masa lalu dalam kehidupannya bersama Hassan di kota Kabul.</p>
<p>Film ini memang memiliki jalan cerita yang mengharukan. Selain itu sebagai sebuah cara pandang Barat tentang Afghanistan, maka film ini dengan sukses memvisualisasikan berbagai hal dalam Afghanistan di era terkini itu sendiri. Ambil saja contoh mengenai kultur bermain layang layang. Kultur ini memang sudah hampir hilang dalam masyarakat Afghanistan era kini, sehingga selain menjadi eksotis dalam dunia barat, juga menjadi eksotis bahkan dalam masyarakat Afghanistan itu sendiri.</p>
<p>Beberapa adegan menjadi pencitraan stereotip memang, seperti adegan kekerasan kaum Taliban di Afghanistan itu sendiri, mengingat sejarah panjang permusuhan Amerika dengan para teroris Timur Tengah terutama pasukan Taliban dan Al Qaeda. Atau bahkan ucapan <em>“Fuck The Russia”</em> dari para imigran Afghanistan di Amerika itu sendiri. Sekalipun ucapan ini sangat koheren dengan adegan invasi tentara Uni Sovyet di Afghanistan, namun menjadi kredo yang sangat klise ketika kita diingatkan akan fakta perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, antara Amerika dan pakta pertahanan Atlantik Utara versus Uni Sovyet dan pakta Warsawa, antara kapitalisme dunia versus komunisme dunia. Dan bukankah sebuah klise dalam film era kekinian hanya menjadi sebuah adegan nostalgia romantik ? Ya inilah perilaku khas Amerika.</p>
<p>Namun sesungguhnya, film ini juga hanyalah sebuah apologi ala Amerika. Ketika proyek pemusnahan teroris Timur Tengah ala George W Bush gagal, maka film adalah senjata pencitraan untuk tetap menjaga nama baik Amerika. Sebuah mekanisme pengulangan kegagalan dalam perang Vietnam seperti repetisi dalam film film Rambo ataupun Platoon. Dan hal ini sebenarnya juga ditertawakan dalam salah satu adegan film ini. Ketika seorang kepala pengurus panti asuhan tempat Sohrab berada di kota Kabul. Ia berkata kepada Amir bahwa seorang pendatang dari Amerika selalu berkata mengenai permasalahan penegakan kemanusiaan bahkan lewat hal hal yang terkecil, tetapi selalu seolah olah menutup mata terhadap kenyataan pahit yang setiap hari mengintai anak anak kecil kaum Hazzara di kota Kabul Afghanistan.</p>
<p>Ya inilah sodoran ironisme Amerika. Disatu sisi ia mentertawakan diri sendiri, disisi lain ia tetap berusaha menunjukkan citra terbaik dirinya. Pada akhirnya film ini memang klise, seklise slogan Make Love Not War dari generasi bunga tahun 60an. Tetapi sebagai sebuah cara pandang lain dari dunia Barat terhadap kultur dan budaya Afghanistan, film ini sangat menghibur bahkan mengharukan sekali buat saya. Lebih jauh lagi saya berpikir bahwa film ini dapat mengajarkan para sineas Indonesia untuk menghargai kultur asli dari leluhurnya dan mengangkatnya kedalam film, sebelum warisan budaya lokal itu menjadi punah dan bahkan eksotis baik di mata Barat maupun di mata bangsa kita sendiri.</p>
<p>Semoga &#8230;</p>
<p> </p>
<p><strong>review by andreas eko<br />
jakarta 180508</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=6&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/the-kite-runner-cara-pandang-lain-dunia-barat-terhadap-afghanistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/b8/Kite_Runner_film.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">poster</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Killing Of John Lennon; roh Chairil Anwar yang meretas dalam tubuh seorang pembunuh</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/the-killing-of-john-lennon-roh-chairil-anwar-yang-meretas-dalam-tubuh-seorang-pembunuh/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/the-killing-of-john-lennon-roh-chairil-anwar-yang-meretas-dalam-tubuh-seorang-pembunuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 02:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[
judul asli : The Killing Of John Lennon
director : Andrew Piddington
tahun pembuatan : 2006
Beberapa teman saya pada jaman kuliah dahulu pernah berkata, bahwa beberapa buku dapat membunuh otak kita. Namun sesungguhnya pembunuhan itu baru terjadi apabila seseorang tidak mampu membedakan antara realitas tekstual dengan realitas nyata. Karena realitas tekstual adalah sebuah imajinasi ataupun sebuah sudut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=5&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/the-killing-of-john-lennon-roh-chairil-anwar-yang-meretas-dalam-tubuh-seorang-pembunuh/"><img src="http://img.youtube.com/vi/WogBtEXXr9o/2.jpg" alt="" /></a></span><img style="vertical-align:baseline;" src="http://graphics8.nytimes.com/images/2008/01/02/arts/lennspan.jpg" alt="adegan Mark David Chapman" width="600" height="280" /></p>
<p><strong>judul asli : The Killing Of John Lennon</strong></p>
<p><strong>director : Andrew Piddington</strong></p>
<p><strong>tahun pembuatan : 2006</strong></p>
<p>Beberapa teman saya pada jaman kuliah dahulu pernah berkata, bahwa beberapa buku dapat membunuh otak kita. Namun sesungguhnya pembunuhan itu baru terjadi apabila seseorang tidak mampu membedakan antara realitas tekstual dengan realitas nyata. Karena realitas tekstual adalah sebuah imajinasi ataupun sebuah sudut pandang pemikiran, sementara realitas nyata adalah fakta yang terjadi yang tidak akan bermakna sampai seseorang memberikan makna dalam otaknya. Kekaburan akan hal ini selain akan menyebabkan ilusi surrealis juga akan membunuh karakter asli seseorang itu sendiri. Lalu apa hubungan hal ini dengan film tentang pembunuhan John Lennon ?</p>
<p><span id="more-5"></span></p>
<p>Dikisahkan bahwa Mark David Chapman adalah seorang pemuda Hawai berusia 25 tahun yang sedikit banyak mengidap neurotis dalam hidupnya. Mengalami opresi dari ibunya yang mengidap paranoid terhadap ketuaan, dimana ibunya yang berusia lebih dari paruh baya ini lebih memilih berkencan dengan para lelaki surfer lokal berusia muda untuk memuaskan rasa narsis akan kecantikan diri ketimbang mengurus si Mark ini. Hal ini membuat Mark merasakan dunia yang bukan hanya menekan melainkan juga mengasingkan dirinya. Kenyataan diperparah dengan krisis apresiasi dirinya karena istrinya yang seorang perempuan Jepang juga sulit memahami hidup dan pemikiran Mark.</p>
<p>Dengan kondisi yang seperti ini, seandainya kita menganalisa dari sudut pandang psikoanalisis ala Sigmund Freud, maka seharusnya Mark melakukan bunuh diri. Tetapi Mark memilih jalan yang lain. Ia membaca buku berjudul A Catcher In The Rye, dan kemudian mengidentifikasikan diri dengan tokoh dalam buku tersebut. Dunia Mark menjadi dunia surrealis, dimana antara yang nyata dan yang imajiner mengabur dan menjadi satu. A Catcher In The Rye kemudian bukan hanya sebuah kitab suci bagi Mark, tetapi juga menjadi sebuah buku petunjuk manual akan pembunuhan John Lennon. Mark yang terlalu pengecut untuk bunuh diri ini lambat laun terbentuk secara kokoh menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.</p>
<p>Ironisnya, Mark sendiri adalah pengagum karya karya John Lennon. Kenyataan ini mengingatkan saya kepada fakta percobaan pembunuhan terhadap Andy Warhol. Disitu seorang hispanik keturunan Mexico menembak Andy Warhol, karena merasa pemikiran dan hidupnya banyak dipengaruhi oleh Andy Warhol. Demikian pula yang juga terjadi pada diri Mark. Selepas ia membaca A Catcher In The Rye, ia membaca berbagai buku autograf mengenai John Lennon, serta mendengarkan berbagai karya musik John Lennon. Manifesto kekecewaannya berpuncak ketika ia mengetahui realita bahwa suara humanis John Lennon dalam lagu Imagine tidak sejalan dengan fakta gaya hidup John Lennon bersama Yoko Ono di New York.</p>
<p>Maka dimulailah petualangannya untuk membunuh John Lennon. Perjalanan pertama ke New York mungkin gagal menghasilkan pembunuhan, bahkan disini Mark seolah olah tersadar akan hal buruk yang dilakukannya ketika ia menonton sebuah film tentang cinta. Namun Mark bukanlah seorang plin plan sekalipun ia terlalu pengecut untuk bunuh diri. 3 minggu kemudian ia meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang security di Hawai dan kembali berangkat ke kota New York untuk membunuh John Lennon.</p>
<p>Di New York ia menyewa kamar di Sheraton yang berseberangan dengan apartemen Dakota tempat John Lennon tinggal. Pada hari ia membunuh John Lennon, sebelum meninggalkan kamar hotelnya, ia menata meja sedemikian rupa dengan Alkitab, beberapa foto dirinya, serta beberapa catatan kecil sebagai sebuah prosesi memoar monumental terhadap dirinya. Setelah berhasil mendapatkan tanda tangan John Lennon pada piringan hitam miliknya serta berfoto bersama, Mark memilih menunggu John Lennon kembali ke apartemen, untuk kemudian menembakkan peluru sebanyak isi pistol revolver kaliber 38 ke dada John Lennon. Dor &#8230; dor &#8230; dor &#8230; berakhirlah sebuah era, dan tinggallah Yoko Ono dalam kesedihan dan kesendirian yang tragis.</p>
<p>Manifestonya adalah <em>“I was nobody until I shot the biggest somebody on Earth”</em>. Mari kita bandingkan hal itu dengan penggalan sajak Chairil Anwar yang bertuliskan <em>“Sekali berarti sesudah itu mati”</em>. Mark David Chapman memang tidak pernah membaca syair Chairil Anwar, dan Chairil Anwar juga tidak pernah mengenal Mark David Chapman. Tetapi kedua quote ini melontarkan puak peradaban yang sama yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme yang sama dari kandungan sebuah peradaban modern yang telah usang. Dan pembunuhan John Lennon oleh Mark David Chapman pada awal dekade 80an selain membuahkan dirinya menjadi <em>“seseorang”</em> dari sebuah era baru, juga membuahkan tanda berakhirnya sebuah era modern khususnya dalam industri musik pop dunia. Sebuah kronik yang sangat selaras dengan berbagai pemikiran eksistensialisme. Disini seolah olah roh Chairil Anwar bereinkarnasi melalui tubuh seorang freak bernama Mark David Chapman.</p>
<p>Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata, difilmkan di tempat tempat yang aktual, dimana seluruh narasi benar benar merupakan keseluruhan ucapan Mark David Chapman sendiri, plus berbagai sisipan footage video asli milik Mark David Chapman. Disini selain menjadi sebuah film yang cult, juga kemudian menjadi sebuah ironi kontroversial tersendiri terhadap industri film Amerika. Ketika biasanya industri film Amerika mengangkat film cult dari sisi positifisme seorang tokoh penting dunia, maka biopic ini justru mengangkat keseluruhan pandangan eksistensialis seorang pembunuh berdarah dingin bernama Mark David Chapman <em>[dimana pemerannya memiliki raut wajah yang mirip dengan David vokalis band Naif]</em>. Ironi ini juga semakin diperkuat oleh sebuah adegan yang benar benar satir menurut saya. Ketika itu John Lennon meninggal, Yoko Ono beserta ribuan fans John Lennon hanya bisa menangis, dan Mark David Chapman ditahan di kantor polisi. Sayup sayup adegan mengabur secara slow motion dan kemudian berkumandang lagu Silent Night yang dalam bahasa Indonesia berarti Malam Kudus, sebuah lagu umat Katolik yang biasa dinyanyikan pada misa Malam Natal sebagai penanda kelahiran Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Lagu Silent Night yang dikontraskan dengan adegan crowd, histeria dan haru biru tersebut adalah sebuah satir film yang sempurna.</p>
<p>Mengingat ironi ironi, kontroversialitas dan satir yang dihasilkan dalam film ini, tidak berlebihan rasanya jika mendapatkan penghargaan sebagai Film Spesial Terbaik pada Tribeca Film Festival. Dan saya merekomendasikan film ini kepada segenap anda untuk menonton dan mempelajari berbagai kandungannya, karena film ini adalah bintang empat untuk saya.</p>
<p><strong>review by andreas eko<br />
jakarta 180508</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=5&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/18/the-killing-of-john-lennon-roh-chairil-anwar-yang-meretas-dalam-tubuh-seorang-pembunuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img.youtube.com/vi/WogBtEXXr9o/2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://graphics8.nytimes.com/images/2008/01/02/arts/lennspan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">adegan Mark David Chapman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konvensi &amp; Generalisasi dalam Namaku Dick</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/08/konvensi-generalisasi-dalam-namaku-dick/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/08/konvensi-generalisasi-dalam-namaku-dick/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 03:24:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[
judul : Namaku Dick
genre : komedi
director : Teddy Soeriatmadja
Teddy Soeriatmadja selama ini dikenal sebagai sutradara film drama yang bagus. Dan &#8220;semestinya&#8221; menjadi sebuah konvensi dalam industri film apabila seorang sutradara yang bagus akan menghasilkan karya yang bagus pula. Namun mengapa saya bilang &#8220;semestinya&#8221;, maka ini akan dibahas dalam film terbarunya yang penuh konvensi dan generalisasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=4&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="vertical-align:baseline;" src="http://ruangfilm.com/__files/poster_dick.jpg" alt="poster little dick" width="136" height="200" /></p>
<p><strong>judul : Namaku Dick</strong></p>
<p><strong>genre : komedi</strong></p>
<p><strong>director : Teddy Soeriatmadja</strong></p>
<p>Teddy Soeriatmadja selama ini dikenal sebagai sutradara film drama yang bagus. Dan <em>&#8220;semestinya&#8221;</em> menjadi sebuah konvensi dalam industri film apabila seorang sutradara yang bagus akan menghasilkan karya yang bagus pula. Namun mengapa saya bilang <em>&#8220;semestinya&#8221;</em>, maka ini akan dibahas dalam film terbarunya yang penuh konvensi dan generalisasi ini.</p>
<p><span id="more-4"></span></p>
<p>Generalisasi pertama muncul dari karakter Bama sebagai seorang playboy dengan kondisi sosio ekonomi yang sukses. Seakan telah menjadi sebuah konvensi baku bahwa kesuksesan ditambah sedikit modal fisik akan menjadi stereotipikasi lelaki playboy arogan. Apalagi jika stereotipikasi ini dikaitkan dengan kondisi masa lalu Bama sebagai seorang <em>&#8220;geek&#8221;</em>, maka semakin komplitlah konvensi itu. Sementara kita tahu dalam realita nyata, seperti pernah diungkap dalam sebuah talk show di sebuah stasiun televisi nasional, bahwa salah satu pemecah rekor MURI dalam hal koleksi istri hingga 74 biji ternyata hanyalah orang desa di pelosok Jawa Tengah yang kerjanya bertani dan berladang.</p>
<p>Konvensi kedua adalah bahwa para perempuan disini seakan hanyalah background untuk karakter Bama semata. Disini nampaknya tidak dicoba untuk pengembangan cerita dan karakter secara kompleks sehingga menjadi lebih menarik. Saya mencoba membandingkan hal tersebut dengan sebuah film berjudul <strong>Le Sexe Qui Parlo</strong>, film porno Prancis tahun 1977. Kedua buah film ini memiliki kesamaan unsur yaitu kelamin yang berbicara, dan kekacauan yang ditimbulkannya kemudian. Bedanya adalah dalam <strong>Le Sexe Qui Parlo</strong>, tokoh utamanya wanita, dan para perempuan dalam karakter ini tidak hendak ditampilkan sebagai sosok lemah yang hanya menanti kebaikan dan permintaan maaf lelaki, walaupun film ini adalah film porno yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Namun ironi menarik seperti ini tidak terlihat dalam film Indonesia berjudul Namaku Dick, karena para perempuan disini hanya ditampilkan sebagai korban playboy yang hanya menunggu permintaan maaf lelaki yang mempermainkannya untuk kemudian melakukan reaksi emosional, atau sebagai karakter penyebab timbulnya akar masalah yaitu sifat playboy si Bama. Disini jelas jelas para perempuan hanya sebagai background, sebuah stereotipikasi khas film Indonesia, sekalipun itu bukanlah sebuah film porno yang dengan jelas tidak mengeksploitasi tubuh perempuan seperti dalam <strong>Le Sexe Qui Parlo</strong>.</p>
<p>Konvensi ketiga muncul dalam sikap irasional Bama ketika si Dick mulai berulah. Sekalipun film ini memang sudah tidak logis sedari awal, namun semestinya dengan beberapa logika akurat mampu membuatnya menjadi lebih menarik, semisal menggunakan sedikit pendekatan psikoanalisis ala Freudian mengenai rasa bersalah dan neurotis yang mungkin menjadi pangkal disorder si Bama. Tetapi ternyata Bama hanya menyerah kepada dukun yang menyuruhnya meminta maaf kepada semua perempuan korbannya. Sebuah tata cara penyelesaian yang murahan, khas Indonesia sekali.</p>
<p>Konvensi keempat lagi lagi adalah masalah bahasa. Sepertinya sudah menjadi standar baku film Indonesia era kekinian, jika ingin menjadi populer, gunakan bahasa Inggris sekalipun itu adalah Inggris acak adut. Dick adalah kata dari bahasa slenge&#8217;an daratan Amerika sana, yang dalam bahasa Indonesia resmi berarti penis. Jika memang menggunakan bahasa Inggris mengapa tidak diganti menjadi I Am Dick sekalian untuk menegaskan citra playboy famboyan seorang Bama. Dan jika ingin menggunakan bahasa Indonesia, mengapa malu malu untuk menuliskan Namaku Penis. Atau mungkin inilah bahasa Indonesia kontemporer, separuh adaptasi bahasa Inggris yang asal British.</p>
<p>Diluar berbagai kritik dan caci maki yang banyak dilontarkan penonton lain terhadap film ini, bagi saya film ini justru jatuh kepada kepatuhannya untuk menghadirkan konvensi konvensi dalam sebuah film komedi. Film Namaku Dick ini tidak mampu mengembangkan penceritaan dan karakterisasi secara lebih baik. Film ini memang telah jatuh sejak awal. Rumusan komedi menggunakan seksualitas secara slapstick sebenarnya adalah rumusan komedi nomor paling cadangan. Karakter hakiki seksualitas adalah membosankan, dan hal ini semestinya dipelajari sejak awal. Seksualitas dihadirkan secara slapstick sebagai komedi justru saat segala rumusan rumusan lain sudah tidak mampu memancing ketawa penonton. Seharusnya Teddy juga belajar kepada film film terakhir Warkop, dimana pada film film terakhir tersebut Warkop sudah tidak mampu memberikan dialog dialog jenaka seperti pada film film awalnya dan kemudian hanya memberikan seksualitas secara slapstick sebagai rumusan komedi.</p>
<p>Teddy Soeriatmadja adalah seorang sutradara yang bagus. Namun melalui film ini, juga dapat ditarik pelajaran yaitu tidak semua film dari seorang sutradara bagus adalah film bagus. Film ini membosankan.</p>
<p> </p>
<p><strong>jakarta 080508</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=4&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/08/konvensi-generalisasi-dalam-namaku-dick/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangfilm.com/__files/poster_dick.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">poster little dick</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka Bilang, Djenar Monyet ?</title>
		<link>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/08/mereka-bilang-djenar-monyet/</link>
		<comments>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/08/mereka-bilang-djenar-monyet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 May 2008 01:20:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menontonfilm</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menontonfilm.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[
judul : Mereka Bilang, Saya Monyet
genre : drama
director : Djenar Maesa Ayu
Film Indonesia kontemporer memang selalu menarik untuk disimak. Hal ini bukan karena keindahan keindahan estetik ala pandangan eksotis dunia barat, tetapi justru karena berbagai mekanisme dalam menyiasati kekurangannya. Dan karena berbagai kekurangannya – yang jauh tertinggal dibandingkan praktek praktek sinematografi kontemporer Eropa – maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=3&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="vertical-align:baseline;" src="http://images.karonkeren.multiply.com/image/4/photos/upload/300x300/SB2KEgoKCE4AAHhtFUQ1/wallpaper2.jpg?et=6fOwqJ3pkFt5SPKY%2CyTiwA&amp;nmid=94339717" alt="wallpaper monyet" width="300" height="225" /></p>
<p><strong>judul : Mereka Bilang, Saya Monyet</strong></p>
<p><strong>genre : drama</strong></p>
<p><strong>director : Djenar Maesa Ayu</strong></p>
<p>Film Indonesia kontemporer memang selalu menarik untuk disimak. Hal ini bukan karena keindahan keindahan estetik ala pandangan eksotis dunia barat, tetapi justru karena berbagai mekanisme dalam menyiasati kekurangannya. Dan karena berbagai kekurangannya – yang jauh tertinggal dibandingkan praktek praktek sinematografi kontemporer Eropa – maka untuk menilainya selain menilik kepada hal hal estetik sebuah karya film, juga harus melihat kepada hal hal ekstra estetik.<br />
<span id="more-3"></span></p>
<p>Mereka Bilang Saya Monyet ! adalah film perdana dari Djenar Maesa Ayu, seorang penulis perempuan favorit saya di negeri ini. Seperti juga kebanyakan seniman dan sutradara lainnya, dalam sebuah karya perdana, kita akan selalu dipertontonkan ego dari sang kreator. Ego sang kreator disini terwujud melalui konsep cerita, yang merupakan adaptasi dari karya cerpen Djenar yaitu Lintah dan Melukis Jendela yang diterbitkan dalam kumpulan cerpennya yang berjudul sama yaitu Mereka Bilang Saya Monyet !</p>
<p>Film ini berkisah tentang sisi kelam dari bayang bayang masa lalu dan masa kecil seorang penulis muda bernama Adjeng. Dari sinopsis seperti ini, maka imajinasi saya langsung meloncat kepada ingatan ingatan akan era 70an dan 80an. Dalam benak saya, tergambar sebuah setting rumah rumah beserta isinya yang sekalipun modern akan tetapi sangat sederhana dan tidak se-sophisticated era sekarang. Visualisasi dalam benak saya ini kemudian juga diperkuat oleh ingatan bahwa dalam era 80an dan 70an teknologi sinematek belum berkembang secanggih sekarang, sehingga memiliki kualitas gambar yang sedikit banyak kasar.</p>
<p>Namun visualisasi yang bermain main dalam benak saya ini kemudian menjadi pudar, ketika saya melihat visualisasi yang ada dalam film ini. Konsep pencahayaan yang <em>“tungsten”</em> ditambah sudut sudut pengambilan gambar yang lebih banyak<em> close up</em>, membuat saya bertanya tanya, ini film dengan beberapa scene flash back masa lalu [70an atau 80an] ataukah roman sinetron penuh mimpi dari akhir dekade 90an. Walaupun tata artistik pada scene scene yang memperlihatkan masa kecil dan masa remaja Adjeng berkesan modernitas Indonesia yang sangat 80an sekali, namun konsep sinematografi dengan pencahayaan dan pengambilan gambar seperti ini membuat saya merasa tidak nyaman dalam menontonnya. Bukan karena menghasilkan gambar yang lebih baik dan halus, akan tetapi justru merusak ingatan saya akan modernitas era 80an. Bahkan kalaupun harus mengambil konsep sinematografi ala sinetron, saya lebih suka membayangkan tata cara sinematografi ala sinetron 80an yaitu “Losmen”, dimana tata cahaya dan sudut pengambilan gambar masih kasar. Pada scene scene ini, kedetilan seperti ini mungkin kurang terbaca oleh Djenar Maesa Ayu.</p>
<p>Namun kelemahan Djenar dalam scene ini terbayar, ketika dalam scene lain, dengan isi yang masih memperlihatkan masa lalu Adjeng, divisualisasikan diluar ruangan. Tata eksterior yang kasar, pencahayaan minimalis, dengan konsep artistik urban kota, benar benar mampu memvisualisasikan ingatan saya akan era 80an. Disini scene yang suka yaitu ketika Adjeng kecil [atau remaja ?] terlihat sedang kebingungan di sebuah taman ria yang tidak terlalu ramai pada malam hari, dengan komedi putar dan bianglala sebagai background, ditambah sudut pengambilan gambar yang jauh diatas. Ingatan saya seolah olah terhempas kepada suasana Ancol pada dekade 80an, yang masih belum semutakhir sekarang. Sebuah scene yang sempurna untuk memperlihatkan masa lalu.</p>
<p>Untuk memahami film ini, maka sebelumnya kita harus membaca terlebih dahulu kedua cerpen Djenar yang berjudul Lintah dan Melukis Jendela. Saya sendiri sudah membaca semua karya tulis Djenar, termasuk kedua cerpen ini. Namun ketika menonton film Djenar ini, terlihat beberapa scene yang sebenarnya tidak perlu, apabila memang Djenar sangat konsisten dan ketat dalam pengadaptasian cerpen Lintah dan Melukis Jendela sebagai konsep film Mereka Bilang Saya Monyet !. Sebut saja salah satu, yaitu scene dimana Adjeng sebagai penulis, merayakan kesuksesannya bersama Asmoro kekasihnya, di sebuah cafe, dimana terdapat banyak orang yang bergunjing secara sinis mengenai keberhasilan Adjeng. Saya melihat scene ini tidak ada dalam kedua buah cerpen tersebut, malahan saya melihat scene ini lebih kepada karya tulis Djenar yang lain yaitu novel berjudul Nayla.</p>
<p>Disini mungkin memang Djenar sengaja tidak konsisten ataupun ketat dalam proses pengadaptasian cerpennya. Walaupun scene ini menjadi bergeser dari konsep pengadaptasian, namun tidak bisa serta merta dipotong dan dibuang begitu saja, karena scene scene ini sangat kuat dalam memperlihatkan rasa insecure dari seorang penulis bernama Adjeng akibat bayangan masa lalu yang menghantuinya. Dialog dialog cerdas dan vulgar disini memang sangat tepat guna, dan memang disinilah letak kekuatan ego Djenar yang memiliki latar belakang penulis. Karena bagaimanapun juga, salah satu kekuatan dari karya seorang perempuan biasanya terletak pada emosi dan nuansa psikologis. Dan hal inilah yang menjadikan scene ini diperlukan. Namun secara estetik, scene ini tetap menjadi sangat ambigu. Dibuang tapi diperlukan, dipakai pun akan berbeda dari naskah aslinya.</p>
<p>Beberapa scene menjadi cukup vulgar, apabila kita menilainya dari sudut pandang budaya so called <em>“ketimuran”</em>. Sebut saja scene scene seperti saat Adjeng sedang bersetubuh, atau saat Adjeng sedang mandi. Namun untuk menilainya secara menyeluruh, kita mau tidak mau harus mengaitkan praktek praktek estetik tersebut dengan beberapa sudut pandang pemikiran. Salah satunya adalah pemikiran feminisme tahun 60an ala Emma Goldman, dimana seksualitas adalah senjata dari para perempuan untuk mengontrol tubuh &amp; kelaminnya, singkat kata dirinya sendiri. Disini seksualitas menjadi sebuah bentuk perlawanan perempuan terhadap berbagai kondisi yang menekan dirinya. Hal tersebut, terlihat jelas dalam adegan Adjeng yang meniduri Asmoro kekasihnya, dimana Adjeng tampak terlihat buas dan seenaknya sementara Asmoro hanya bisa pasif menerima perlakuan Adjeng. Sebuah adegan yang bukan hanya memperlihatkan seksualitas, tetapi juga representasi runtuhnya dominasi patriarkal kaum lelaki terhadap perempuan.</p>
<p>Bahkan lebih jauh lagi, scene ini dimata saya menjadi sebuah scene yang sangat Eropa sekali. Bagi film film Hollywood, ketelanjangan selalu dieksotisasi, ketelanjangan dicari audience bukan karena vulgarnya akan tetapi justru karena watak konservatifnya. Sehingga ketika adegan ketelanjangan dipotong dan dibuang, hal itu tidak akan merubah substansi film selain justru membuat penonton menjadi sedikit kecewa. Hal yang berbeda terjadi dalam praktek sinematografi Eropa. Ketelanjangan selalu bermakna, sebut saja dalam film film arahan sutradara kesohor Bernardo Bertolucci. Dalam film berjudul Last Tango In Paris, ketelanjangan adalah representasi rasa insecure, sementara dalam film The Dreamers, ketelanjangan sebuah bentuk kenaifan dan pertemuan dua kutub budaya yaitu generasi bunga di Amerika dan generasi pemberontak sosialis Eropa. Ketelanjangan dalam film Mereka Bilang Saya Monyet ! pun juga bermakna disini. Ia adalah simbol proyeksi psikologis sisi kelam masa lalu Adjeng yang dilampiaskan melalui perilaku agresif Adjeng dewasa. Jika ia dipotong maka salah satu substansi cerita film tidak akan tersampaikan kepada penonton. Akting Titi Sjuman [istri musisi Wong Aksan sekaligus adik ipar Djenar Maesa Ayu] sebagai Adjeng dewasa, diluar gestur tubuhnya yang memang mempesona, juga sangat memikat disini. Tidak berlebihan apabila dalam Indonesian Movie Awards kemarin, ia mendapat penghargaan atas perannya di film ini.</p>
<p>Namun sekali lagi masih terdapat adegan yang ganjil dalam film ini. Seperti ketika ibu Adjeng [Henidar Amroe] mengetahui kelakuan Adjeng dewasa yang sesungguhnya, dimana Adjeng dewasa adalah perokok kelas berat, pemabuk kronis dan bergonta ganti pasangan di tempat tidur. Disini ibu Adjeng hanya hanya menasehati secara sinis, sebuah sikap yang berbeda jauh dengan yang diperlihatkan ketika Adjeng masih kecil, dimana Adjeng kecil dipaksa menelan kembali sayur yang telah dimuntahkannya kedalam wc. Bahkan lebih jauh lagi, adegan seperti ini terasa sangat jauh dari realita. Seperti kita tahu, di negeri yang masih teramat malu malu untuk mengungkapkan hal hal kecil seperti perempuan perokok, stok bir bintang berkaleng kaleng di kulkas, bahkan hingga kepada urusan siapa lelaki yang berhak menidurinya, maka akan terasa aneh ketika seorang ibu yang mengetahui anaknya melakukan hal tersebut kemudian hanya menasehati secara sinis. Apalagi disini diceritakan bahwa karakter Adjeng adalah adalah karakter seorang perempuan yang sejak kecil sudah sangat tunduk dan takluk terhadap karakter ibunya. Jadi sesungguhnya menjadi keanehan ketika perilaku agresif Adjeng ini ditimpali dengan sikap lunak oleh ibunya.</p>
<p>Diluar keganjilan keganjilan adegan tersebut, memang masih terdapat beberapa ketidaksempurnaan lain secara teknis. Seperti di beberapa adegan, dimana kamera mengambil gambar secara handheld, sementara adegan tersebut seharusnya berlangsung secara sophisticated. Namun kesemua cacat teknis tersebut masih dapat dimaklumi, karena seperti dikatakan oleh Djenar, bahwa dalam debut film perdananya ini, ia banyak mensiasati keterbatasan dana bagi produksi. Hal ini menjelaskan mengapa ia menggunakan video digital dan bukan seluloid, ataupun tata cara pengambilan gambar yang lebih banyak <em>handheld</em> dan bukan <em>steady cam</em> atau menggunakan perangkat canggih lain seperti <em>crane</em> dan <em>jimmy jip</em>. Dan tata cara teknis seperti ini, walaupun masih jauh dari sempurna namun tidak mengurangi substansi filmnya. Diluar hal tersebut, proses editing dan alur penceritaan sangat bagus, bahkan pada ending film terjadi twist yang sangat bagus. Bukan sekedar twist yang membalik dan meruntuhkan bangunan cerita namun juga membuat kesemuanya menjadi mengambang. Ini adalah sebuah praktek estetik yang cerdas sekaligus humoris dari seorang Djenar.</p>
<p>Selain hal hal tersebut diatas, ada beberapa peran cameo yang saya suka. Seperti Jajang C Noer yang menjadi pembantu ataupun Joko Anwar yang menjadi seorang boss pengusaha sekaligus salah satu teman tidur Adjeng dewasa. Mereka adalah orang orang besar dalam dunia perfilman Indonesia terkini, namun mereka rela melakukan peran peran kecil, dan hebatnya mereka melakukan itu dengan baik.</p>
<p>Menonton Mereka Bilang Saya Monyet ! ini memang jauh dari harapan saya akan sebuah pengadaptasian cerpen yang baik kedalam karya film. Namun sebagai sebuah film <em>cult</em>, dimana masih jarang ada di Indonesia, film ini adalah sebuah debut perdana yang bagus. Cukup bagus bagi kita untuk tidak serta merta mengatakan Monyet ! kepada seorang Djenar Maesa Ayu.</p>
<p>jakarta, 040508</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menontonfilm.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menontonfilm.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menontonfilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menontonfilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menontonfilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menontonfilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menontonfilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menontonfilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menontonfilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menontonfilm.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menontonfilm.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menontonfilm.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menontonfilm.wordpress.com&blog=3673211&post=3&subd=menontonfilm&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menontonfilm.wordpress.com/2008/05/08/mereka-bilang-djenar-monyet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c67f59d50207c44a83bf4c17f11a3817?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">menontonfilm</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.karonkeren.multiply.com/image/4/photos/upload/300x300/SB2KEgoKCE4AAHhtFUQ1/wallpaper2.jpg?et=6fOwqJ3pkFt5SPKY%2CyTiwA&#38;nmid=94339717" medium="image">
			<media:title type="html">wallpaper monyet</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>