Produser : Jim Morris, John Laseeter, Lindsay Collins
Produksi : Walt Disney Pictures
Sutradara : Andrew Stanton
Penulis : Andrew Stanton
Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard
Tahun : 2008
Bagaimana rasanya menjadi robot terakhir yang tersisa di muka bumi ?
Pertanyaan ini disodorkan melalui film Wall E. Pertanyaan yang sekaligus membuka pintu gerbang menuju sebuah perenungan yang lebih besar lagi terhadap kehidupan ras manusia pada dunia industri di era kontemporer seperti sekarang ini.
Produser : Sarrah Jessica Parker, Michael Patrick King
Produksi : New Line Cinema
Sutradara : Michael Patrick King
Penulis : Michael Patrick King
Pemain : Sarrah jessica Parker, Kim Cattrall, Kristin Davis, Cynthia Nixon
Tahun : 2008
Mungkin terdapat milyaran orang [terutama perempuan] di planet bumi ini yang menggemari Sex & The City semenjak masih menjadi serial televisi hingga menjadi film layar lebar. Mungkin terdapat juga milyaran orang yang merasa kecewa dengan Sex & The City format layar lebar yang jauh dari harapan mereka. Hal ini bisa dimaklumi, karena ekspektasi penonton yang berharap bahwa Sex & The City format layar lebar akan mampu menampilkan sajian cerita tentang hubungan antar personal yang membara seperti dalam Sex & City format serial televisi. Dan seperti kata seorang teman, maka film seperti sebuah lagu. Ia dipilih untuk disukai ataupun tidak, selalu karena berhubungan dengan kehidupan personal si penonton. Disini, film sama seperti juga sebuah lagu, akan terbebani dengan ekspektasi ekspektasi tertentu diluar praktek estetik si pembuatnya. Menonton film pun menjadi sesuatu hal yang tidak objektif lagi.
Penulis naskah : Habiburrachman El Shirazi, Salman Aristo, Ginatri Noer
Produksi : MD Pictures
Tahun : 2008
Sebenarnya saya tidak terlalu suka untuk meresensi film film populer, terutama film box office yang dapat membuat seseorang sekaliber Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadi termehek mehek saat menontonnya. Namun desakan secara terus menerus dari beberapa teman saya, yang berbeda agama dengan saya yang seorang Katolik akhirnya mampu meluluhkan saya. Bahkan lebih jauh lagi, saya juga tidak hanya meresensi filmnya, namun sekaligus juga novel Ayat Ayat Cinta.
Director : Marc Rocco Cast: : Dermot Mulroney (King), Lara-Flynn Boyle (Heather), Balthazar Getty (Little J), Sean Astin (Greg), James LeGros (Crasher), Ricki Lake (Brenda), Kyle MacLachlan (Ted), Robert Knepper (Rock Singer), Peter Dobson (Tommy Ray), Stephen Tobolowsky (Charles), Will Smith (Manny), Adam Baldwin (Officer Black), Laura San Giacomo (Interviewer), Christian Slater (Rocky), Nancy McKeon (Vikki), Alyssa Milano (Kimmy), David Arquette (Rob), Charlie Sheen (Drug Dealer) Producer : Paul Hertzbert, Lisa M Jansen, Marc Rocco Production : Grey Matter Entertaintment Distribution : New Line Cinema Year : 1992
Apa yang menjadi penanda populer dalam sejarah kebudayaan ala Amerika pada dekade 90an ? Jawabannya bisa saja beragam, tetapi lebih baik saya generalisasikan dalam beberapa hal saja secara singkat, yaitu : grunge, bohemian, narkotika dan ketidak teraturan. Beberapa hal tersebut diatas yang menjadi pondasi dalam sebuah film bernama Where The Day Takes You.
Konon industri film Amerika di era kekinian sempat kehabisan stock untuk bercerita melalui film. Konon segala hal telah habis dieksplorasi, dari satir kebodohan penduduk Amerika hingga nostalgia heroisme ala Marvel ataupun DC. Lalu apakah yang menarik dalam film Love ini, atau tepatnya apa yang baru dalam film ini ?
Berbicara mengenai Afghanistan, maka otak kita akan terfokus kepada serdadu Taliban, gerilyawan Al Qaeda dan Ossama Bin Laden, serta kehidupan keras kaum muslim di gurun pasir Timur Tengah. Dengan disutradarai oleh Marc Foster [director film Finding Neverland], film ini memang memvisualkan hal tersebut. Tetapi lebih jauh lagi, plot film ini bercerita mengenai kembalinya kebaikan dalam hidup beberapa orang Afghanistan.
Beberapa teman saya pada jaman kuliah dahulu pernah berkata, bahwa beberapa buku dapat membunuh otak kita. Namun sesungguhnya pembunuhan itu baru terjadi apabila seseorang tidak mampu membedakan antara realitas tekstual dengan realitas nyata. Karena realitas tekstual adalah sebuah imajinasi ataupun sebuah sudut pandang pemikiran, sementara realitas nyata adalah fakta yang terjadi yang tidak akan bermakna sampai seseorang memberikan makna dalam otaknya. Kekaburan akan hal ini selain akan menyebabkan ilusi surrealis juga akan membunuh karakter asli seseorang itu sendiri. Lalu apa hubungan hal ini dengan film tentang pembunuhan John Lennon ?
Teddy Soeriatmadja selama ini dikenal sebagai sutradara film drama yang bagus. Dan “semestinya” menjadi sebuah konvensi dalam industri film apabila seorang sutradara yang bagus akan menghasilkan karya yang bagus pula. Namun mengapa saya bilang “semestinya”, maka ini akan dibahas dalam film terbarunya yang penuh konvensi dan generalisasi ini.
Film Indonesia kontemporer memang selalu menarik untuk disimak. Hal ini bukan karena keindahan keindahan estetik ala pandangan eksotis dunia barat, tetapi justru karena berbagai mekanisme dalam menyiasati kekurangannya. Dan karena berbagai kekurangannya – yang jauh tertinggal dibandingkan praktek praktek sinematografi kontemporer Eropa – maka untuk menilainya selain menilik kepada hal hal estetik sebuah karya film, juga harus melihat kepada hal hal ekstra estetik. Read the rest of this entry ?