h1

Belajar menjadi manusia dengan Wall E

Agustus 3, 2008

 

 Produser : Jim Morris, John Laseeter, Lindsay Collins
 Produksi : Walt Disney Pictures
 Sutradara : Andrew Stanton

 Penulis : Andrew Stanton
 Pemain : Ben Burtt, Sigourney Weaver, Jeff Garlin, Fred Willard
 Tahun : 2008

 

 

Bagaimana rasanya menjadi robot terakhir yang tersisa di muka bumi ?
Pertanyaan ini disodorkan melalui film Wall E. Pertanyaan yang sekaligus membuka pintu gerbang menuju sebuah perenungan yang lebih besar lagi terhadap kehidupan ras manusia pada dunia industri di era kontemporer seperti sekarang ini.

Tersebutlah Wall E, sebuah robot pemulung. Robot terakhir yang tersisa di muka bumi. Ia menjadi satu satunya robot disini, karena sebuah kesalahan sejarah. Manusia terlalu bebal untuk membiarkan kultur industrialis mengambil alih sisi sisi manusiawi dalam kehidupan manusia. Dan ketika kesalahan sejarah itu telah menjadi sampah yang telah menggunung, maka manusia hanya mampu melarikan diri dan bernostalgia terhadap keindahan hidup mereka dahulu. Wall E sebagai sebuah robot yang tersisa, ia pun dipaksa untuk hidup berdampingan dengan kesalahan sejarah umat manusia tersebut. Hingga pada suatu waktu, datanglah E-Pa, sebuah robot lain. Robot yang membawanya untuk mengajarkan manusia akan nilai nilai humanisme. Dan dari sinilah petualangan Wall E bermula.

Film keluaran Pixar ini tidak salah jika saya sebut sebagai salah satu film animasi terbaik di tahun ini. Bahkan review dari beberapa situs terpercaya juga memberikan bintang empat kepada film ini. Disini, Pixar memberikan pilihan cerita yang tidak hanya menghibur, namun juga memberikan kedalaman perenungan terhadap kehidupan umat manusia. Dan cerita yang dipilih Pixar, merupakan sebuah cerita yang tepat disaat umat manusia terutama di belahan bumi Amerika sedang membutuhkan alternatif dalam kehidupannya.

Scott McLoud, seorang komikus dan penulis, pernah memberikan pendapat bahwa manusia adalah makhluk yang egois karena selalu memberikan sisi manusia kedalam benda benda. Merujuk kepada pernyataan Scott McLoud tadi, maka film Wall E akan menjadi film animasi yang sangat ironis. Karena pada film Wall E, kita dipaksa untuk belajar kembali menjadi manusia dengan sisi sisi humanisnya melalui sebuah robot yang berperilaku lebih humanis daripada manusia manusia terakhir di muka bumi. Salah satu contoh adalah ketika Wall E menemukan tumbuhan diantara reruntuhan puing puing sampah, ia sebagai robot bukannya membuang ataupun medaur ulangnya, melainkan menyimpannya agar tetap tumbuh dan berkembang. Bandingkan dengan perilaku manusia yang dengan alasan pembangunan kota, malahan membabat habis pohon pohon dan tanaman di taman taman kota.

Animasi dalam Wall E inipun sangat berbeda dengan tipikal animasi animasi lainnya. Sebelum ini, kita terbiasa dengan mekanisme visual dalam animasi yang sophisticated ataupun futuristik dengan bertebaran visualisasi yang canggih dan mutakhir. Namun disini, kita mendapati visualisasi yang dikontraskan antar satu dengan lainnya. Visual kehidupan futuristis dalam pesawat tempat E-Pa tinggal versus visualisasi bumi yang penuh sampah industri di tempat Wall E tinggal. Visualisasi tumbuhan hidup yang segar dan tumbuh bersemi versus visualisasi gunungan sampah industri sebagai latar belakangnya.

Membaca film Wall E memang menuntut kecerdasan visual. Hal ini mutlak, karena film ini minim dialog verbal. Wall E memang lebih banyak menggunakan praktek komunikasi visual, sesuatu yang jarang dilakukan Pixar dalam film film sebelumnya. Dan hal ini cukup membuat saya salut, karena merupakan terobosan langka dan berani yang dilakukan studio sebesar Pixar.

Wall E mendapat bintang empat dari saya. Dan saya sangat mereferensikan film ini kepada segenap anda, yang masih ingin menjadi manusia dalam kotornya kehidupan dunia industri era sekarang ini.

jakarta, akhir juli 2008

Tinggalkan sebuah Komentar