
Melihat mentalitas audience & hubungan antar personal dalam Sex & The City
Agustus 2, 2008
Produser : Sarrah Jessica Parker, Michael Patrick King
Produksi : New Line Cinema
Sutradara : Michael Patrick King
Penulis : Michael Patrick King
Pemain : Sarrah jessica Parker, Kim Cattrall, Kristin Davis, Cynthia Nixon
Tahun : 2008
Mungkin terdapat milyaran orang [terutama perempuan] di planet bumi ini yang menggemari Sex & The City semenjak masih menjadi serial televisi hingga menjadi film layar lebar. Mungkin terdapat juga milyaran orang yang merasa kecewa dengan Sex & The City format layar lebar yang jauh dari harapan mereka. Hal ini bisa dimaklumi, karena ekspektasi penonton yang berharap bahwa Sex & The City format layar lebar akan mampu menampilkan sajian cerita tentang hubungan antar personal yang membara seperti dalam Sex & City format serial televisi. Dan seperti kata seorang teman, maka film seperti sebuah lagu. Ia dipilih untuk disukai ataupun tidak, selalu karena berhubungan dengan kehidupan personal si penonton. Disini, film sama seperti juga sebuah lagu, akan terbebani dengan ekspektasi ekspektasi tertentu diluar praktek estetik si pembuatnya. Menonton film pun menjadi sesuatu hal yang tidak objektif lagi.
Dalam Sex & The City format serial televisi, terkisahkan Carrie Bradshaw, Samantha, Charlotte dan Miranda sebagai sahabat, dalam rentang usia akhir 20an hingga 35an menjalani hidup di kota metropolitan New York. Pada rentang usia tersebut, rata rata kebanyakan orang akan menjalani hidup dengan tujuan yang kurang lebih adalah citra diri dan juga hubungan personal yang romantis dan membara. Demikian juga yang terjadi dalam Sex & The City format serial televisi. Semua tersajikan dengan menarik seperti kisah dongeng sebelum tidur, hanya saja melalui kehidupan 4 perempuan di kota New York.
Sementara itu dalam Sex & The City format film layar lebar, maka Carrie dan para sahabatnya berada dalam rentang usia 40an sekian. Rentang waktu dimana kebanyakan manusia akan menjalani hidup dengan tujuan yang lebih sederhana sekaligus kompleks yaitu kebahagiaan. Kebahagiaan bagi setiap orang akan selalu berbeda, seperti juga yang terjadi pada Carrie dan sahabatnya. Bagi Carrie, kebahagiaan akan didapat dengan menikah bersama Mr Big, lelaki pilihannya. Sementara bagi Samantha, kebahagiaan terjadi dengan mengatasi permasalahan dirinya yaitu ketergantungannya akan seks. Bagi Charlotte, kebahagiaan berarti adalah keluarga yang sempurna, serta bagi Miranda, kebahagiaan terjadi apabila ia berhasil mengatasi hubungan personalnya dengan suaminya.
Permasalahan kebahagiaan sebenarnya adalah hal klasik dalam kehidupan, namun sangat kompleks dalam praktiknya. Sebuah pernikahan mungkin akan menjadi praktek yang sederhana bagi Carrie, namun bisa menjadi sebuah persoalan yang luar biasa kompleks bagi Mr Big. Ia berpikir dari A sampai Z hingga kembali ke A dan memutuskan membatalkan pernikahan disaat saat terakhir. Dan apabila pernikahan adalah sebuah kebahagiaan, maka hal itu akan melibatkan manajemen kebebasan dan manajemen mental dari dua orang, yang tentunya sangatlah rumit. Pernikahan bukanlah kisah dongeng sebelum tidur yang selalu menghiasi mentalitas para perempuan muda. Dari hal ini bisa terlihat bahwa kebahagiaan seseorang, belum tentu menjadi sebuah hal yang sederhana bagi orang lain, karena melibatkan ketakutan ketakutan tertentu dalam mentalitas dirinya.
Permasalahan unik lainnya mengenai kebahagiaan terjadi dalam kehidupan Samantha. Samantha pada saat berumur 30an sekian [dalam format serial televisi] adalah seorang Samantha yang egois, control freak, dan melihat konsep hubungan melalui kualitas hubungan seks bersama pasangannya. Namun terkisahkan disini, Samantha adalah seorang perempuan berumur menjelang 50an, dan menjalani transisi kehidupan antara perempuan bermental usia 30an sekian kepada perempuan bermental usia menjelang 50an. Kebutuhan mendasar dari dirinya akan kebahagiaan adalah sebuah perasaan dimiliki, perasaan sebagai objek kasih sayang. Dan hal inilah yang tidak ia dapati dengan tata cara yang egois dan control freak terhadap pasangannya, terutama apabila ia melihat pasangannya [dan juga dirinya] melalui hubungan seks semata. Selalu ada ruang ruang kosong dalam sisi emosinya. Hal inilah yang coba diatasi Samantha, dengan tata caranya sendiri, hingga kepada berpantang untuk melakukan hubungan seks.
Permasalahan kebahagiaan adalah permasalahan yang unik. Selalu menarik untuk dibicarakan dan ditonton karena ia bukan sekedar dongeng sebelum tidur ataupun kisah kisah di iklan televisi. Kebahagiaan selalu berarti mengatasi segala permasalahan mendasar dalam kehidupan sekaligus menikmati kehidupan itu sendiri, kehidupan yang menurut kata seorang teman adalah sadomasokis. Dan terkadang manusia suka lupa, karena ia hanya menikmati sisi indahnya semata tetapi tidak mampu menikmati sisi masokisnya. Sisi yang justru memunculkan banyak hal menarik – sekalipun kecil – dalam samudra kehidupan yang mahaluas.
Dan sisi sisi kecil yang masokis dan menarik inilah yang sedang diperagakan dalam Sex & The City format layar lebar. Trauma trauma masa lalu seorang Mr Big yang tidak tampak secara verbal tetapi mampu mengacaukan pernikahannya dengan Carrie, hingga kepada negatifisme seorang Miranda dalam memandang hidup yang tampak secara jelas baik melalui perkataan hingga kepada sikap untuk tidak melakukan waxing pada bulu kemaluannya. Semua ini adalah sisi sisi kecil dari sebuah kehidupan yang masokis.
Pada akhirnya memang adalah happy ending, sebuah praktek estetik khas Hollywood. Carrie dan Mr Big akhirnya menikah secara sederhana, Miranda yang kembali ke suaminya, Samantha yang berbahagia dengan hidupnya yang sendiri [tanpa pasangan seksual], serta Charlotte yang menikmati menjadi ibu bagi keluarganya yang sempurna. Dan disini, Hollywood melalui praktek visual dalam film Sex & The City, seakan hendak mengadopsi filosofi budaya timur, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang sederhana dan berasal dari pemenuhan kebutuhan mendasar dalam diri.
Menonton Sex & The City format layar lebar bagi saya ibarat menonton sebuah fragmen kehidupan yang kecil, singkat tetapi menarik karena penuh dengan lokus konflik yang kecil kecil, sehingga memaksa saya untuk merenungkan mengenai permasalahan kebahagiaan yang konon didapat dengan cara mengatasi dan menikmati sisi sisi masokisnya tersebut. Namun tentu saja tetap dengan sebuah catatan, bahwa untuk menonton film Sex & The City, sebelumnya haruslah mengosongkan terlebih dahulu referensi mengenai Sex & The City ala serial televisi agar bisa mendapati sisi sisi menariknya secara objektif dan jauh dari ekspektasi ekspektasi tertentu. Film ini mendapatkan bintang tiga dari saya, dan sangat direferensikan bagi mereka yang ingin menikmati hidup dan berusaha meraih kebahagiaan secara lebih sederhana.
jakarta, akhir juli2008