
Ayat Ayat Cinta; ambiguitas antara dakwah dan dialog antar umat beragama
Juni 9, 2008 
Director : Hanung Bramantyo
Pemain : Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Hj. Mieke Wijaya
Penulis naskah : Habiburrachman El Shirazi, Salman Aristo, Ginatri Noer
Produksi : MD Pictures
Tahun : 2008
Sebenarnya saya tidak terlalu suka untuk meresensi film film populer, terutama film box office yang dapat membuat seseorang sekaliber Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menjadi termehek mehek saat menontonnya. Namun desakan secara terus menerus dari beberapa teman saya, yang berbeda agama dengan saya yang seorang Katolik akhirnya mampu meluluhkan saya. Bahkan lebih jauh lagi, saya juga tidak hanya meresensi filmnya, namun sekaligus juga novel Ayat Ayat Cinta.
Ayat Ayat Cinta, sebagai sebuah film, diadaptasi dari novel karangan Habiburahman El Shirazi yang bertajuk sama. Dari sini sudah jelas, bahwa tanggung jawab moral utama selain berada pada tangan seorang sutradara juga berada pada penulis naskah asli atau dalam hal ini penulis novel Ayat Ayat Cinta tersebut. Karena sesuai dengan alur kerja dalam proses sinematografi, maka film sekalipun adalah sebuah kerja tim, tetapi aktor utama dibelakang layar adalah sutradara dan penulis naskah itu sendiri.
Ayat Ayat Cinta dibuat dengan semangat dakwah, setidaknya itu yang saya tangkap baik novel maupun dari film itu sendiri. Oleh karena dibuat dengan semangat dakwah, maka kepentingan ataupun tujuan utamanya adalah sebuah siar agama atau kampanye kebaikan sebuah ajaran agama. Dalam hal ini Ayat Ayat Cinta hendak menyiarkan semangat kedamaian dalam ajaran agama Islam. Semangat ini sesungguhnya baik, mengingat stigma negatif yang sering dilekatkan kepada kaum muslim sebagai seorang teroris.
Namun semangat dakwah ini cenderung berlebihan. Setidaknya itu yang saya tangkap dalam novelnya. Terdapat sebuah adegan dalam novel, dimana Maria yang seorang penganut Kristen Koptik bermimpi, dan dalam mimpinya ia bertemu Bunda Maria. Bunda Maria kemudian menyerukan kepada Maria, bahwa untuk mencapai kebahagiaan dan surga yang diinginkan, Maria haruslah mengucap syahadat dan menjadi muslim.
Bunda Maria adalah sosok yang dikuduskan oleh kaum Nasrani di seluruh dunia. Sementara itu kaum Nasrani apapun bentuk alirannya, menganut ajaran Yesus Kristus mengenai kebaikan, kebahagiaan, kemanusiaan bahkan konsep surga dan neraka itu sendiri. Apa yang hendak dikemukakan oleh Habiburahman dalam novelnya ini setidaknya merupakan sebuah subversi yang cenderung menyalahpahami keberadaan ajaran agama Nasrani. Namun oleh Habiburahman, novel ini cenderung dijadikan siar dakwah kebaikan ajaran Islam.
Sebelum lebih jauh membahas novel dan film Ayat Ayat Cinta, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu mengenai tradisi hidup berdampingan dalam agama agama Samawi. Agama agama Samawi adalah agama agama wahyu yang diturunkan pertama kalinya di daratan Afrika Utara dan Timur Tengah. Pada mulanya Tuhan menurunkan sepuluh perintahNya dalam loh batu kepada nabi Musa yang seorang bani Yahudi di gunung Sinai. Sepuluh perintah Allah ini kemudian menjadi ajaran Yahudi Ibrani di sinagoga sinagoga Israel dengan kitabnya bernama Taurat Musa. Hal ini berkembang hingga masa Yesus Kristus. Perkembangan jaman yang semakin kompleks memaksa Yesus Kristus yang juga seorang anak gembala Yahudi untuk merevolusi berbagai ajaran Taurat Musa. Injil dengan berbagai variannya kemudian menjadi kitab suci bagi agama Nasrani. Dalam agama Nasrani sendiri terdapat berbagai percabangan. Seperti Katolik Roma [Romawi] yang tersebar di seluruh dunia dengan berpusat di Vatikan, Kristen Protestan yang awal mulanya dikembangkan oleh kaum Anglo Saxon di Inggris, serta Nasrani Ortodoks [Katolik Ortodoks] yang juga disebut Kristen Koptik yang disebarkan oleh para murid Yesus sesudah era Kristus di Timur Tengah, Afrika Utara, sebagian Eropa Timur, serta bekas Uni Sovyet [Rusia dan negara negara kecil disekitarnya]. Setelah perkembangan ajaran Nasrani ini, kemudian barulah berkembang ajaran Islam oleh nabi Muhammad yang memindahkan pusat agama dari Yerusalem ke Mekkah. Islam sendiri dalam ajarannya melalui kitab suci Al Quran juga banyak mengadaptasikan ajaran ajaran syariat Yahudi yang telah berkembang mulai jaman nabi Musa hingga Yesus Kristus.
Terdapat banyak bukti otentik mengenai hal tersebut. Seperti shalat lima waktu dalam Islam yang diadaptasi dari shalat tujuh waktu Kristen Koptik, kemudian tradisi berpuasa orang Islam selama 30 hari yang serupa dengan tradisi berpuasa orang Katolik selama 40 hari menjelang Paskah, serta ucapan salam assalamualaikum dalam Islam yang berarti syallom bagi umat Nasrani. Serta masih banyak hal hal kecil lain dalam ajaran umat Islam yang secara historis diwariskan oleh tradisi syariat Yahudi ini. Dan hingga detik ini, di Timur Tengah yang notabene merupakan daerah konflik, umat beragama hidup berdampingan dengan rukun tanpa memandang bulu apakah itu seorang Islam ataukah seorang Nasrani ataukah seorang Yahudi Ibrani. Walaupun kehidupan berdampingan di Timur Tengah ini seringkali dirusak oleh fundamentalisme dan totalitarian yang diperagakan anak cucu kaum Saud dan kaum Wahhab.
Korelasi antara kehidupan multireligi dengan novel Ayat Ayat Cinta disini adalah setting geografis dan kultural. Namun novel Ayat Ayat Cinta, yang memang cenderung ditulis dengan semangat dakwah, kemudian cenderung kurang memperhatikan riset mengenai tradisi kehidupan berdampingan antar agama di Timur Tengah. Hal ini kemudian malahan menyebabkan novel Ayat Ayat Cinta menjadi over dalam semangatnya. Lalu jika novel Ayat Ayat Cinta dalam dakwahnya kemudian mensubversi ajaran Kristen Koptik, mengapa banyak umat Islam harus marah kepada Ahmadiyah ?
Bagi saya novel ini jatuh karena ia cenderung menjadi pretensius. Lebih jauh lagi saya sendiri lebih menyukai jika novel Ayat Ayat Cinta dibuat dengan riset akan tradisi kerukunan antar umat beragama yang bukan bersetting Timur Tengah melainkan di Indonesia Timur tepatnya di Maluku dan Papua yang bernama pella-gandong. Hal ini juga untuk mengajarkan bangsa Indonesia agar menghargai budayanya sendiri dan tidak kearab-araban atau bahkan lebih arab ketimbang orang Arab itu sendiri.
Adegan yang saya sebutkan dalam novel ini, untungnya tidak diadaptasi oleh Hanung Bramantyo kedalam filmnya. Hanung Bramantyo sekalipun tidak melakukan riset yang ketat mengenai tradisi kehidupan multireligi di daratan Timur Tengah dan Afrika Utara, agaknya juga tidak hendak mengadaptasi novel Ayat Ayat Cinta secara ketat menjadi sebuah film yang utuh. Saya sendiri tidak mengetahui alasan pasti dari Hanung Bramantyo mengenai hal ini.
Namun mekanisme yang diperagakan Hanung Bramantyo ini membuat film Ayat Ayat Cinta menjadi lebih ambigu, setidaknya ambiguitas yang harmonis. Film Ayat Ayat Cinta memang tetap berdakwah, tetapi lebih dengan semangat kerendahan hati sehingga cukup memperhatikan dialog kerukunan antar umat beragama. Dan ambiguitas seperti inilah yang menjadi kekuatan dalam film Ayat Ayat Cinta. Film Ayat Ayat Cinta menjadi film yang cukup baik bukan karena box office dan tiketnya habis terjual di seantero nusantara, melainkan justru karena film ini mencapai tujuannya untuk menyiarkan kedamaian dalam ajaran agama Islam tanpa harus merusak dialog kerukunan antar umat beragama.
review by andreas eko
jakarta, 090608
modal novelnya emang udah terlalu muslimtopia. si penulis ibarat tahu selera (dan kebetulan selera dia sama) dengan orang-orang mayoritas di sini, orang-orang yang rindu akan muslimtopia itu.
Wah nice review pak!
Enak bacanya, tapi kok ulasan teknis ke filmnya sendiri gak ada ya? padahal kalo menontonfilm itu identik dengan review yang holistik dan padat.
Ditunggu film berikutnya ya
ya gue nontonnya di bioskop … mana sempet merhatiin detil teknisnya … hehehe