h1

Where The Day Takes You; Representasi Sebuah Era Ketika Hollywood adalah Hollyweird

Juni 8, 2008

poster kecil

Director : Marc Rocco    
Cast:  : Dermot Mulroney (King), Lara-Flynn Boyle (Heather), Balthazar Getty (Little J), Sean Astin (Greg), James LeGros (Crasher), Ricki Lake (Brenda), Kyle MacLachlan (Ted), Robert Knepper (Rock Singer), Peter Dobson (Tommy Ray), Stephen Tobolowsky (Charles), Will Smith (Manny), Adam Baldwin (Officer Black), Laura San Giacomo (Interviewer), Christian Slater (Rocky), Nancy McKeon (Vikki), Alyssa Milano (Kimmy), David Arquette (Rob), Charlie Sheen (Drug Dealer)
Producer : Paul Hertzbert, Lisa M Jansen, Marc Rocco
Production : Grey Matter Entertaintment
Distribution : New Line Cinema
Year  : 1992

Apa yang menjadi penanda populer dalam sejarah kebudayaan ala Amerika pada dekade 90an ? Jawabannya bisa saja beragam, tetapi lebih baik saya generalisasikan dalam beberapa hal saja secara singkat, yaitu : grunge, bohemian, narkotika dan ketidak teraturan. Beberapa hal tersebut diatas yang menjadi pondasi dalam sebuah film bernama Where The Day Takes You.

Film ini memang bukan film box office pada dekade 90an, tetapi ia adalah sebuah film yang benar benar bagus. Ia memang berada pada kategori drama, namun setting dan ceritanya menyebabkannya berada dalam subordinat pinggiran drama alias urban drama. Lebih dari itu film ini, sekalipun bukan film yang cukup populer namun merupakan something in common dalam kategori road movie yang banyak tumbuh dalam lingkaran kultur indie film dan urban drama.

Berkisah tentang beberapa orang remaja homeless yang mencoba survive dalam kehidupan jalanan di pinggiran Boulevard Hollywood, Los Angeles Amerika. King, seorang adalah pimpinan dari para remaja tersebut. Ia baru saja bebas dari penjara akibat kasus penyerangan. Dan ketika kembali ke rumahnya yaitu di kolong fly over jalan tol Los Angeles, ia mendapati perubahan dalam diri teman temannya yang selama ini menjadi keluarganya. Greg yang menjadi pecandu akut narkoba, Little J yang semakin kriminal dan menyukai senjata api, Crasher si tokoh tua lain yang semakin kehilangan wibawa, serta kedatangan Heather yang membuat kehidupan King menjadi lebih berarti. Melodramatic terjadi ketika perseteruan antara King dan seorang germo bernama Tommy Ray.

Film ini dibuat dengan pendekatan yang sedikit banyak dokumenter, serta berdasarkan riset yang ketat mengenai kehidupan anak jalanan di Amerika Serikat. Hal inilah yang membuat Marc Rocco berani mengeluarkan pernyataan, bahwa setiap 21 jam di Amerika Serikat, satu orang anak akan minggat dari rumahnya dan berada di jalanan.

Kekuatan lain dari film ini adalah karakter karakternya yang ambigu, ironis dan lebih realistis. King sebagai pimpinan, bukanlah seorang jagoan macho yang petentang petenteng. Ia hanyalah gembel yang suka mengemis, dimana hasilnya ia bagikan kepada teman teman pengemisnya yang lain, serta suka membuat istilah plesetan jalanan seperti Hollywood yang berubah menjadi Hollyweird. Greg, anak jalanan yang manja dan tidak sanggup menghadapi kekuatan halusinasi narkotika yang dipakainya. Little J, remaja puber yang harus melayani nafsu seorang homoseksual demi mendapatkan uang untuk makanan dan senjata api. Crasher, remaja tua berwajah mirip Axl Rose tetapi tidak memiliki wibawa seperti seorang metalhead. Brenda, perempuan remaja obsesif yang ingin menjadi aktris tetapi menderita obesitas. Serta Heather, perempuan jalanan yang sebenarnya manja dan pussycat. Kesemua karakter ini jauh dari glamor dan modernitas sinema ala Hollywood. Mereka terlalu cengeng untuk film action tetapi juga terlalu preman untuk film drama. Ambiguitas dan ironi seperti inilah yang menjadi ciri dan kekuatan film.

Kekuatan lain yaitu, film bertaburan dengan bintang bintang muda yang berperan sebagai cameo. Seperti Will Smith yang menjadi pengemis gembel cacat, ataupun Charlie Sheen yang menjadi pengedar narkoba, serta Allysa Milano dan Christian Slater. Mereka memang hanya menjadi cameo, tetapi mereka melakukan dengan baik, dan hal ini membuat saya salut dan angkat topi kepada mereka.

Sinematografi film juga sangat baik. Dengan tata kamera dan warna warna sedemikian rupa, ia mewakili visualisasi khas ala akhir dekade 80an dan awal dekade 90an. Raw tetapi harmonis, kasar tetapi tidak brutal. Boleh dikatakan jika film ini merupakan representasi sebuah era yaitu dekade 90an.

Dan dengan ending yang tragis sekaligus mengharukan, film ini semakin meneguhkan semangat sebuah era, ketika narkotika, grunge, bohemian dan ketidak-teraturan kehidupan jalanan berpadu menjadi satu. Film ini memang tentang kehidupan jalanan, namun lebih jauh lagi, film ini merupakan sumbangan pemikiran penting mengenai arti penting rumah dan keluarga. Tidak berlebihan kiranya jika film mendapat bintang empat dari saya. Untuk anda yang berasal dari akhir dekade 80an dan besar di dekade 90an, film ini sangat direferensikan sebagai jejak nostalgia kehidupan anda.

jakarta, 080608

Tinggalkan sebuah Komentar