
The Kite Runner; cara pandang lain dunia Barat terhadap Afghanistan
Mei 18, 2008
judul asli : The Kite Runner
director : Marc Foster
tahun pembuatan : 2007
Berbicara mengenai Afghanistan, maka otak kita akan terfokus kepada serdadu Taliban, gerilyawan Al Qaeda dan Ossama Bin Laden, serta kehidupan keras kaum muslim di gurun pasir Timur Tengah. Dengan disutradarai oleh Marc Foster [director film Finding Neverland], film ini memang memvisualkan hal tersebut. Tetapi lebih jauh lagi, plot film ini bercerita mengenai kembalinya kebaikan dalam hidup beberapa orang Afghanistan.
Terkisahkan bahwa Hassan dan Amir adalah dua orang karib sejak kecil, yang terpisah ketika invasi pasukan Uni Sovyet di kota Kabul. Amir adalah anak seorang saudagar kaya di kota Kabul. Dan Hassan yang berdarah Hazzara adalah anak dari Ali pembantu dikeluarga Amir. Kaum Hazzara adalah suku dengan kelas sosial nomer dua di Afghanistan. Ketika perang berlangsung, Amir dibesarkan di Amerika dan kemudian menjadi seorang penulis cerita fiksi. Hassan sendiri kurang beruntung, setelah berhasil melewati masa susah dalam invasi Uni Sovyet, Hassan beserta istrinya terbunuh oleh pasukan Taliban di kota Kabul. Disini Amir pun harus kembali ke kota Kabul demi menyelamatkan anak lelaki Hassan bernama Sohrab dari cengkeraman pasukan Taliban yang berasal dari suku asli Afghanistan dengan kelas sosial nomor satu. Disini Amir selain harus menghadapi pasukan Taliban, juga harus menghadapi hantu hantu masa lalu dalam kehidupannya bersama Hassan di kota Kabul.
Film ini memang memiliki jalan cerita yang mengharukan. Selain itu sebagai sebuah cara pandang Barat tentang Afghanistan, maka film ini dengan sukses memvisualisasikan berbagai hal dalam Afghanistan di era terkini itu sendiri. Ambil saja contoh mengenai kultur bermain layang layang. Kultur ini memang sudah hampir hilang dalam masyarakat Afghanistan era kini, sehingga selain menjadi eksotis dalam dunia barat, juga menjadi eksotis bahkan dalam masyarakat Afghanistan itu sendiri.
Beberapa adegan menjadi pencitraan stereotip memang, seperti adegan kekerasan kaum Taliban di Afghanistan itu sendiri, mengingat sejarah panjang permusuhan Amerika dengan para teroris Timur Tengah terutama pasukan Taliban dan Al Qaeda. Atau bahkan ucapan “Fuck The Russia” dari para imigran Afghanistan di Amerika itu sendiri. Sekalipun ucapan ini sangat koheren dengan adegan invasi tentara Uni Sovyet di Afghanistan, namun menjadi kredo yang sangat klise ketika kita diingatkan akan fakta perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, antara Amerika dan pakta pertahanan Atlantik Utara versus Uni Sovyet dan pakta Warsawa, antara kapitalisme dunia versus komunisme dunia. Dan bukankah sebuah klise dalam film era kekinian hanya menjadi sebuah adegan nostalgia romantik ? Ya inilah perilaku khas Amerika.
Namun sesungguhnya, film ini juga hanyalah sebuah apologi ala Amerika. Ketika proyek pemusnahan teroris Timur Tengah ala George W Bush gagal, maka film adalah senjata pencitraan untuk tetap menjaga nama baik Amerika. Sebuah mekanisme pengulangan kegagalan dalam perang Vietnam seperti repetisi dalam film film Rambo ataupun Platoon. Dan hal ini sebenarnya juga ditertawakan dalam salah satu adegan film ini. Ketika seorang kepala pengurus panti asuhan tempat Sohrab berada di kota Kabul. Ia berkata kepada Amir bahwa seorang pendatang dari Amerika selalu berkata mengenai permasalahan penegakan kemanusiaan bahkan lewat hal hal yang terkecil, tetapi selalu seolah olah menutup mata terhadap kenyataan pahit yang setiap hari mengintai anak anak kecil kaum Hazzara di kota Kabul Afghanistan.
Ya inilah sodoran ironisme Amerika. Disatu sisi ia mentertawakan diri sendiri, disisi lain ia tetap berusaha menunjukkan citra terbaik dirinya. Pada akhirnya film ini memang klise, seklise slogan Make Love Not War dari generasi bunga tahun 60an. Tetapi sebagai sebuah cara pandang lain dari dunia Barat terhadap kultur dan budaya Afghanistan, film ini sangat menghibur bahkan mengharukan sekali buat saya. Lebih jauh lagi saya berpikir bahwa film ini dapat mengajarkan para sineas Indonesia untuk menghargai kultur asli dari leluhurnya dan mengangkatnya kedalam film, sebelum warisan budaya lokal itu menjadi punah dan bahkan eksotis baik di mata Barat maupun di mata bangsa kita sendiri.
Semoga …
review by andreas eko
jakarta 180508
saya baru membaca bukunya, belum nonton filmnya, dvdnya sudah beredar ya? ceritanya memang mengharukan, dan saya jadi tau sudut pandang lain soal taliban…..