
The Killing Of John Lennon; roh Chairil Anwar yang meretas dalam tubuh seorang pembunuh
Mei 18, 2008
judul asli : The Killing Of John Lennon
director : Andrew Piddington
tahun pembuatan : 2006
Beberapa teman saya pada jaman kuliah dahulu pernah berkata, bahwa beberapa buku dapat membunuh otak kita. Namun sesungguhnya pembunuhan itu baru terjadi apabila seseorang tidak mampu membedakan antara realitas tekstual dengan realitas nyata. Karena realitas tekstual adalah sebuah imajinasi ataupun sebuah sudut pandang pemikiran, sementara realitas nyata adalah fakta yang terjadi yang tidak akan bermakna sampai seseorang memberikan makna dalam otaknya. Kekaburan akan hal ini selain akan menyebabkan ilusi surrealis juga akan membunuh karakter asli seseorang itu sendiri. Lalu apa hubungan hal ini dengan film tentang pembunuhan John Lennon ?
Dikisahkan bahwa Mark David Chapman adalah seorang pemuda Hawai berusia 25 tahun yang sedikit banyak mengidap neurotis dalam hidupnya. Mengalami opresi dari ibunya yang mengidap paranoid terhadap ketuaan, dimana ibunya yang berusia lebih dari paruh baya ini lebih memilih berkencan dengan para lelaki surfer lokal berusia muda untuk memuaskan rasa narsis akan kecantikan diri ketimbang mengurus si Mark ini. Hal ini membuat Mark merasakan dunia yang bukan hanya menekan melainkan juga mengasingkan dirinya. Kenyataan diperparah dengan krisis apresiasi dirinya karena istrinya yang seorang perempuan Jepang juga sulit memahami hidup dan pemikiran Mark.
Dengan kondisi yang seperti ini, seandainya kita menganalisa dari sudut pandang psikoanalisis ala Sigmund Freud, maka seharusnya Mark melakukan bunuh diri. Tetapi Mark memilih jalan yang lain. Ia membaca buku berjudul A Catcher In The Rye, dan kemudian mengidentifikasikan diri dengan tokoh dalam buku tersebut. Dunia Mark menjadi dunia surrealis, dimana antara yang nyata dan yang imajiner mengabur dan menjadi satu. A Catcher In The Rye kemudian bukan hanya sebuah kitab suci bagi Mark, tetapi juga menjadi sebuah buku petunjuk manual akan pembunuhan John Lennon. Mark yang terlalu pengecut untuk bunuh diri ini lambat laun terbentuk secara kokoh menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Ironisnya, Mark sendiri adalah pengagum karya karya John Lennon. Kenyataan ini mengingatkan saya kepada fakta percobaan pembunuhan terhadap Andy Warhol. Disitu seorang hispanik keturunan Mexico menembak Andy Warhol, karena merasa pemikiran dan hidupnya banyak dipengaruhi oleh Andy Warhol. Demikian pula yang juga terjadi pada diri Mark. Selepas ia membaca A Catcher In The Rye, ia membaca berbagai buku autograf mengenai John Lennon, serta mendengarkan berbagai karya musik John Lennon. Manifesto kekecewaannya berpuncak ketika ia mengetahui realita bahwa suara humanis John Lennon dalam lagu Imagine tidak sejalan dengan fakta gaya hidup John Lennon bersama Yoko Ono di New York.
Maka dimulailah petualangannya untuk membunuh John Lennon. Perjalanan pertama ke New York mungkin gagal menghasilkan pembunuhan, bahkan disini Mark seolah olah tersadar akan hal buruk yang dilakukannya ketika ia menonton sebuah film tentang cinta. Namun Mark bukanlah seorang plin plan sekalipun ia terlalu pengecut untuk bunuh diri. 3 minggu kemudian ia meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang security di Hawai dan kembali berangkat ke kota New York untuk membunuh John Lennon.
Di New York ia menyewa kamar di Sheraton yang berseberangan dengan apartemen Dakota tempat John Lennon tinggal. Pada hari ia membunuh John Lennon, sebelum meninggalkan kamar hotelnya, ia menata meja sedemikian rupa dengan Alkitab, beberapa foto dirinya, serta beberapa catatan kecil sebagai sebuah prosesi memoar monumental terhadap dirinya. Setelah berhasil mendapatkan tanda tangan John Lennon pada piringan hitam miliknya serta berfoto bersama, Mark memilih menunggu John Lennon kembali ke apartemen, untuk kemudian menembakkan peluru sebanyak isi pistol revolver kaliber 38 ke dada John Lennon. Dor … dor … dor … berakhirlah sebuah era, dan tinggallah Yoko Ono dalam kesedihan dan kesendirian yang tragis.
Manifestonya adalah “I was nobody until I shot the biggest somebody on Earth”. Mari kita bandingkan hal itu dengan penggalan sajak Chairil Anwar yang bertuliskan “Sekali berarti sesudah itu mati”. Mark David Chapman memang tidak pernah membaca syair Chairil Anwar, dan Chairil Anwar juga tidak pernah mengenal Mark David Chapman. Tetapi kedua quote ini melontarkan puak peradaban yang sama yaitu eksistensialisme. Eksistensialisme yang sama dari kandungan sebuah peradaban modern yang telah usang. Dan pembunuhan John Lennon oleh Mark David Chapman pada awal dekade 80an selain membuahkan dirinya menjadi “seseorang” dari sebuah era baru, juga membuahkan tanda berakhirnya sebuah era modern khususnya dalam industri musik pop dunia. Sebuah kronik yang sangat selaras dengan berbagai pemikiran eksistensialisme. Disini seolah olah roh Chairil Anwar bereinkarnasi melalui tubuh seorang freak bernama Mark David Chapman.
Film ini diangkat berdasarkan kisah nyata, difilmkan di tempat tempat yang aktual, dimana seluruh narasi benar benar merupakan keseluruhan ucapan Mark David Chapman sendiri, plus berbagai sisipan footage video asli milik Mark David Chapman. Disini selain menjadi sebuah film yang cult, juga kemudian menjadi sebuah ironi kontroversial tersendiri terhadap industri film Amerika. Ketika biasanya industri film Amerika mengangkat film cult dari sisi positifisme seorang tokoh penting dunia, maka biopic ini justru mengangkat keseluruhan pandangan eksistensialis seorang pembunuh berdarah dingin bernama Mark David Chapman [dimana pemerannya memiliki raut wajah yang mirip dengan David vokalis band Naif]. Ironi ini juga semakin diperkuat oleh sebuah adegan yang benar benar satir menurut saya. Ketika itu John Lennon meninggal, Yoko Ono beserta ribuan fans John Lennon hanya bisa menangis, dan Mark David Chapman ditahan di kantor polisi. Sayup sayup adegan mengabur secara slow motion dan kemudian berkumandang lagu Silent Night yang dalam bahasa Indonesia berarti Malam Kudus, sebuah lagu umat Katolik yang biasa dinyanyikan pada misa Malam Natal sebagai penanda kelahiran Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Lagu Silent Night yang dikontraskan dengan adegan crowd, histeria dan haru biru tersebut adalah sebuah satir film yang sempurna.
Mengingat ironi ironi, kontroversialitas dan satir yang dihasilkan dalam film ini, tidak berlebihan rasanya jika mendapatkan penghargaan sebagai Film Spesial Terbaik pada Tribeca Film Festival. Dan saya merekomendasikan film ini kepada segenap anda untuk menonton dan mempelajari berbagai kandungannya, karena film ini adalah bintang empat untuk saya.
review by andreas eko
jakarta 180508