h1

Mereka Bilang, Djenar Monyet ?

Mei 8, 2008

wallpaper monyet

judul : Mereka Bilang, Saya Monyet

genre : drama

director : Djenar Maesa Ayu

Film Indonesia kontemporer memang selalu menarik untuk disimak. Hal ini bukan karena keindahan keindahan estetik ala pandangan eksotis dunia barat, tetapi justru karena berbagai mekanisme dalam menyiasati kekurangannya. Dan karena berbagai kekurangannya – yang jauh tertinggal dibandingkan praktek praktek sinematografi kontemporer Eropa – maka untuk menilainya selain menilik kepada hal hal estetik sebuah karya film, juga harus melihat kepada hal hal ekstra estetik.

Mereka Bilang Saya Monyet ! adalah film perdana dari Djenar Maesa Ayu, seorang penulis perempuan favorit saya di negeri ini. Seperti juga kebanyakan seniman dan sutradara lainnya, dalam sebuah karya perdana, kita akan selalu dipertontonkan ego dari sang kreator. Ego sang kreator disini terwujud melalui konsep cerita, yang merupakan adaptasi dari karya cerpen Djenar yaitu Lintah dan Melukis Jendela yang diterbitkan dalam kumpulan cerpennya yang berjudul sama yaitu Mereka Bilang Saya Monyet !

Film ini berkisah tentang sisi kelam dari bayang bayang masa lalu dan masa kecil seorang penulis muda bernama Adjeng. Dari sinopsis seperti ini, maka imajinasi saya langsung meloncat kepada ingatan ingatan akan era 70an dan 80an. Dalam benak saya, tergambar sebuah setting rumah rumah beserta isinya yang sekalipun modern akan tetapi sangat sederhana dan tidak se-sophisticated era sekarang. Visualisasi dalam benak saya ini kemudian juga diperkuat oleh ingatan bahwa dalam era 80an dan 70an teknologi sinematek belum berkembang secanggih sekarang, sehingga memiliki kualitas gambar yang sedikit banyak kasar.

Namun visualisasi yang bermain main dalam benak saya ini kemudian menjadi pudar, ketika saya melihat visualisasi yang ada dalam film ini. Konsep pencahayaan yang “tungsten” ditambah sudut sudut pengambilan gambar yang lebih banyak close up, membuat saya bertanya tanya, ini film dengan beberapa scene flash back masa lalu [70an atau 80an] ataukah roman sinetron penuh mimpi dari akhir dekade 90an. Walaupun tata artistik pada scene scene yang memperlihatkan masa kecil dan masa remaja Adjeng berkesan modernitas Indonesia yang sangat 80an sekali, namun konsep sinematografi dengan pencahayaan dan pengambilan gambar seperti ini membuat saya merasa tidak nyaman dalam menontonnya. Bukan karena menghasilkan gambar yang lebih baik dan halus, akan tetapi justru merusak ingatan saya akan modernitas era 80an. Bahkan kalaupun harus mengambil konsep sinematografi ala sinetron, saya lebih suka membayangkan tata cara sinematografi ala sinetron 80an yaitu “Losmen”, dimana tata cahaya dan sudut pengambilan gambar masih kasar. Pada scene scene ini, kedetilan seperti ini mungkin kurang terbaca oleh Djenar Maesa Ayu.

Namun kelemahan Djenar dalam scene ini terbayar, ketika dalam scene lain, dengan isi yang masih memperlihatkan masa lalu Adjeng, divisualisasikan diluar ruangan. Tata eksterior yang kasar, pencahayaan minimalis, dengan konsep artistik urban kota, benar benar mampu memvisualisasikan ingatan saya akan era 80an. Disini scene yang suka yaitu ketika Adjeng kecil [atau remaja ?] terlihat sedang kebingungan di sebuah taman ria yang tidak terlalu ramai pada malam hari, dengan komedi putar dan bianglala sebagai background, ditambah sudut pengambilan gambar yang jauh diatas. Ingatan saya seolah olah terhempas kepada suasana Ancol pada dekade 80an, yang masih belum semutakhir sekarang. Sebuah scene yang sempurna untuk memperlihatkan masa lalu.

Untuk memahami film ini, maka sebelumnya kita harus membaca terlebih dahulu kedua cerpen Djenar yang berjudul Lintah dan Melukis Jendela. Saya sendiri sudah membaca semua karya tulis Djenar, termasuk kedua cerpen ini. Namun ketika menonton film Djenar ini, terlihat beberapa scene yang sebenarnya tidak perlu, apabila memang Djenar sangat konsisten dan ketat dalam pengadaptasian cerpen Lintah dan Melukis Jendela sebagai konsep film Mereka Bilang Saya Monyet !. Sebut saja salah satu, yaitu scene dimana Adjeng sebagai penulis, merayakan kesuksesannya bersama Asmoro kekasihnya, di sebuah cafe, dimana terdapat banyak orang yang bergunjing secara sinis mengenai keberhasilan Adjeng. Saya melihat scene ini tidak ada dalam kedua buah cerpen tersebut, malahan saya melihat scene ini lebih kepada karya tulis Djenar yang lain yaitu novel berjudul Nayla.

Disini mungkin memang Djenar sengaja tidak konsisten ataupun ketat dalam proses pengadaptasian cerpennya. Walaupun scene ini menjadi bergeser dari konsep pengadaptasian, namun tidak bisa serta merta dipotong dan dibuang begitu saja, karena scene scene ini sangat kuat dalam memperlihatkan rasa insecure dari seorang penulis bernama Adjeng akibat bayangan masa lalu yang menghantuinya. Dialog dialog cerdas dan vulgar disini memang sangat tepat guna, dan memang disinilah letak kekuatan ego Djenar yang memiliki latar belakang penulis. Karena bagaimanapun juga, salah satu kekuatan dari karya seorang perempuan biasanya terletak pada emosi dan nuansa psikologis. Dan hal inilah yang menjadikan scene ini diperlukan. Namun secara estetik, scene ini tetap menjadi sangat ambigu. Dibuang tapi diperlukan, dipakai pun akan berbeda dari naskah aslinya.

Beberapa scene menjadi cukup vulgar, apabila kita menilainya dari sudut pandang budaya so called “ketimuran”. Sebut saja scene scene seperti saat Adjeng sedang bersetubuh, atau saat Adjeng sedang mandi. Namun untuk menilainya secara menyeluruh, kita mau tidak mau harus mengaitkan praktek praktek estetik tersebut dengan beberapa sudut pandang pemikiran. Salah satunya adalah pemikiran feminisme tahun 60an ala Emma Goldman, dimana seksualitas adalah senjata dari para perempuan untuk mengontrol tubuh & kelaminnya, singkat kata dirinya sendiri. Disini seksualitas menjadi sebuah bentuk perlawanan perempuan terhadap berbagai kondisi yang menekan dirinya. Hal tersebut, terlihat jelas dalam adegan Adjeng yang meniduri Asmoro kekasihnya, dimana Adjeng tampak terlihat buas dan seenaknya sementara Asmoro hanya bisa pasif menerima perlakuan Adjeng. Sebuah adegan yang bukan hanya memperlihatkan seksualitas, tetapi juga representasi runtuhnya dominasi patriarkal kaum lelaki terhadap perempuan.

Bahkan lebih jauh lagi, scene ini dimata saya menjadi sebuah scene yang sangat Eropa sekali. Bagi film film Hollywood, ketelanjangan selalu dieksotisasi, ketelanjangan dicari audience bukan karena vulgarnya akan tetapi justru karena watak konservatifnya. Sehingga ketika adegan ketelanjangan dipotong dan dibuang, hal itu tidak akan merubah substansi film selain justru membuat penonton menjadi sedikit kecewa. Hal yang berbeda terjadi dalam praktek sinematografi Eropa. Ketelanjangan selalu bermakna, sebut saja dalam film film arahan sutradara kesohor Bernardo Bertolucci. Dalam film berjudul Last Tango In Paris, ketelanjangan adalah representasi rasa insecure, sementara dalam film The Dreamers, ketelanjangan sebuah bentuk kenaifan dan pertemuan dua kutub budaya yaitu generasi bunga di Amerika dan generasi pemberontak sosialis Eropa. Ketelanjangan dalam film Mereka Bilang Saya Monyet ! pun juga bermakna disini. Ia adalah simbol proyeksi psikologis sisi kelam masa lalu Adjeng yang dilampiaskan melalui perilaku agresif Adjeng dewasa. Jika ia dipotong maka salah satu substansi cerita film tidak akan tersampaikan kepada penonton. Akting Titi Sjuman [istri musisi Wong Aksan sekaligus adik ipar Djenar Maesa Ayu] sebagai Adjeng dewasa, diluar gestur tubuhnya yang memang mempesona, juga sangat memikat disini. Tidak berlebihan apabila dalam Indonesian Movie Awards kemarin, ia mendapat penghargaan atas perannya di film ini.

Namun sekali lagi masih terdapat adegan yang ganjil dalam film ini. Seperti ketika ibu Adjeng [Henidar Amroe] mengetahui kelakuan Adjeng dewasa yang sesungguhnya, dimana Adjeng dewasa adalah perokok kelas berat, pemabuk kronis dan bergonta ganti pasangan di tempat tidur. Disini ibu Adjeng hanya hanya menasehati secara sinis, sebuah sikap yang berbeda jauh dengan yang diperlihatkan ketika Adjeng masih kecil, dimana Adjeng kecil dipaksa menelan kembali sayur yang telah dimuntahkannya kedalam wc. Bahkan lebih jauh lagi, adegan seperti ini terasa sangat jauh dari realita. Seperti kita tahu, di negeri yang masih teramat malu malu untuk mengungkapkan hal hal kecil seperti perempuan perokok, stok bir bintang berkaleng kaleng di kulkas, bahkan hingga kepada urusan siapa lelaki yang berhak menidurinya, maka akan terasa aneh ketika seorang ibu yang mengetahui anaknya melakukan hal tersebut kemudian hanya menasehati secara sinis. Apalagi disini diceritakan bahwa karakter Adjeng adalah adalah karakter seorang perempuan yang sejak kecil sudah sangat tunduk dan takluk terhadap karakter ibunya. Jadi sesungguhnya menjadi keanehan ketika perilaku agresif Adjeng ini ditimpali dengan sikap lunak oleh ibunya.

Diluar keganjilan keganjilan adegan tersebut, memang masih terdapat beberapa ketidaksempurnaan lain secara teknis. Seperti di beberapa adegan, dimana kamera mengambil gambar secara handheld, sementara adegan tersebut seharusnya berlangsung secara sophisticated. Namun kesemua cacat teknis tersebut masih dapat dimaklumi, karena seperti dikatakan oleh Djenar, bahwa dalam debut film perdananya ini, ia banyak mensiasati keterbatasan dana bagi produksi. Hal ini menjelaskan mengapa ia menggunakan video digital dan bukan seluloid, ataupun tata cara pengambilan gambar yang lebih banyak handheld dan bukan steady cam atau menggunakan perangkat canggih lain seperti crane dan jimmy jip. Dan tata cara teknis seperti ini, walaupun masih jauh dari sempurna namun tidak mengurangi substansi filmnya. Diluar hal tersebut, proses editing dan alur penceritaan sangat bagus, bahkan pada ending film terjadi twist yang sangat bagus. Bukan sekedar twist yang membalik dan meruntuhkan bangunan cerita namun juga membuat kesemuanya menjadi mengambang. Ini adalah sebuah praktek estetik yang cerdas sekaligus humoris dari seorang Djenar.

Selain hal hal tersebut diatas, ada beberapa peran cameo yang saya suka. Seperti Jajang C Noer yang menjadi pembantu ataupun Joko Anwar yang menjadi seorang boss pengusaha sekaligus salah satu teman tidur Adjeng dewasa. Mereka adalah orang orang besar dalam dunia perfilman Indonesia terkini, namun mereka rela melakukan peran peran kecil, dan hebatnya mereka melakukan itu dengan baik.

Menonton Mereka Bilang Saya Monyet ! ini memang jauh dari harapan saya akan sebuah pengadaptasian cerpen yang baik kedalam karya film. Namun sebagai sebuah film cult, dimana masih jarang ada di Indonesia, film ini adalah sebuah debut perdana yang bagus. Cukup bagus bagi kita untuk tidak serta merta mengatakan Monyet ! kepada seorang Djenar Maesa Ayu.

jakarta, 040508

Tinggalkan Komentar