
Konvensi & Generalisasi dalam Namaku Dick
Mei 8, 2008
judul : Namaku Dick
genre : komedi
director : Teddy Soeriatmadja
Teddy Soeriatmadja selama ini dikenal sebagai sutradara film drama yang bagus. Dan “semestinya” menjadi sebuah konvensi dalam industri film apabila seorang sutradara yang bagus akan menghasilkan karya yang bagus pula. Namun mengapa saya bilang “semestinya”, maka ini akan dibahas dalam film terbarunya yang penuh konvensi dan generalisasi ini.
Generalisasi pertama muncul dari karakter Bama sebagai seorang playboy dengan kondisi sosio ekonomi yang sukses. Seakan telah menjadi sebuah konvensi baku bahwa kesuksesan ditambah sedikit modal fisik akan menjadi stereotipikasi lelaki playboy arogan. Apalagi jika stereotipikasi ini dikaitkan dengan kondisi masa lalu Bama sebagai seorang “geek”, maka semakin komplitlah konvensi itu. Sementara kita tahu dalam realita nyata, seperti pernah diungkap dalam sebuah talk show di sebuah stasiun televisi nasional, bahwa salah satu pemecah rekor MURI dalam hal koleksi istri hingga 74 biji ternyata hanyalah orang desa di pelosok Jawa Tengah yang kerjanya bertani dan berladang.
Konvensi kedua adalah bahwa para perempuan disini seakan hanyalah background untuk karakter Bama semata. Disini nampaknya tidak dicoba untuk pengembangan cerita dan karakter secara kompleks sehingga menjadi lebih menarik. Saya mencoba membandingkan hal tersebut dengan sebuah film berjudul Le Sexe Qui Parlo, film porno Prancis tahun 1977. Kedua buah film ini memiliki kesamaan unsur yaitu kelamin yang berbicara, dan kekacauan yang ditimbulkannya kemudian. Bedanya adalah dalam Le Sexe Qui Parlo, tokoh utamanya wanita, dan para perempuan dalam karakter ini tidak hendak ditampilkan sebagai sosok lemah yang hanya menanti kebaikan dan permintaan maaf lelaki, walaupun film ini adalah film porno yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Namun ironi menarik seperti ini tidak terlihat dalam film Indonesia berjudul Namaku Dick, karena para perempuan disini hanya ditampilkan sebagai korban playboy yang hanya menunggu permintaan maaf lelaki yang mempermainkannya untuk kemudian melakukan reaksi emosional, atau sebagai karakter penyebab timbulnya akar masalah yaitu sifat playboy si Bama. Disini jelas jelas para perempuan hanya sebagai background, sebuah stereotipikasi khas film Indonesia, sekalipun itu bukanlah sebuah film porno yang dengan jelas tidak mengeksploitasi tubuh perempuan seperti dalam Le Sexe Qui Parlo.
Konvensi ketiga muncul dalam sikap irasional Bama ketika si Dick mulai berulah. Sekalipun film ini memang sudah tidak logis sedari awal, namun semestinya dengan beberapa logika akurat mampu membuatnya menjadi lebih menarik, semisal menggunakan sedikit pendekatan psikoanalisis ala Freudian mengenai rasa bersalah dan neurotis yang mungkin menjadi pangkal disorder si Bama. Tetapi ternyata Bama hanya menyerah kepada dukun yang menyuruhnya meminta maaf kepada semua perempuan korbannya. Sebuah tata cara penyelesaian yang murahan, khas Indonesia sekali.
Konvensi keempat lagi lagi adalah masalah bahasa. Sepertinya sudah menjadi standar baku film Indonesia era kekinian, jika ingin menjadi populer, gunakan bahasa Inggris sekalipun itu adalah Inggris acak adut. Dick adalah kata dari bahasa slenge’an daratan Amerika sana, yang dalam bahasa Indonesia resmi berarti penis. Jika memang menggunakan bahasa Inggris mengapa tidak diganti menjadi I Am Dick sekalian untuk menegaskan citra playboy famboyan seorang Bama. Dan jika ingin menggunakan bahasa Indonesia, mengapa malu malu untuk menuliskan Namaku Penis. Atau mungkin inilah bahasa Indonesia kontemporer, separuh adaptasi bahasa Inggris yang asal British.
Diluar berbagai kritik dan caci maki yang banyak dilontarkan penonton lain terhadap film ini, bagi saya film ini justru jatuh kepada kepatuhannya untuk menghadirkan konvensi konvensi dalam sebuah film komedi. Film Namaku Dick ini tidak mampu mengembangkan penceritaan dan karakterisasi secara lebih baik. Film ini memang telah jatuh sejak awal. Rumusan komedi menggunakan seksualitas secara slapstick sebenarnya adalah rumusan komedi nomor paling cadangan. Karakter hakiki seksualitas adalah membosankan, dan hal ini semestinya dipelajari sejak awal. Seksualitas dihadirkan secara slapstick sebagai komedi justru saat segala rumusan rumusan lain sudah tidak mampu memancing ketawa penonton. Seharusnya Teddy juga belajar kepada film film terakhir Warkop, dimana pada film film terakhir tersebut Warkop sudah tidak mampu memberikan dialog dialog jenaka seperti pada film film awalnya dan kemudian hanya memberikan seksualitas secara slapstick sebagai rumusan komedi.
Teddy Soeriatmadja adalah seorang sutradara yang bagus. Namun melalui film ini, juga dapat ditarik pelajaran yaitu tidak semua film dari seorang sutradara bagus adalah film bagus. Film ini membosankan.
jakarta 080508
setuju!